KAB. CIREBON, (FC).- Kebakaran dahsyat melanda PT AIYI Internasional di Desa Kebonturi, Kecamatan Arjawinagun, Kabupaten Cirebon pada Senin (27/2) malam sekitar pukul 20.00 WIB.
Hingga Selasa (28/2) siang kobaran api yang melanda PT AIYI Internasional yang merupakan pabrik busa belum juga dapat dipadamkan.
Kebakaran pabrik busa sendiri diketahui pertama kali oleh para pekerja yang sedang bekerja shift dua, mereka melihat langsung awal kebakaran berasal dari percikan api di area produksi pembuatan busa. Kemudian para pekerja berhamburan keluar area pabrik dan melaporkan kejadian kebakaran ke pihak keamanan pabrik yang sedang berjaga.
Kebakaran diduga akibat korsleting atau arus pendek listrik yang membuat percikan api melalap pabrik busa. Akibat kejadian tesebut puluhan mobil Pemadam Kebakaran dari Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Cirebon dikerahkan untuk memadamkan kobaran api.
Bahkan kebakaran hebat tersebut mengakibatkan ledakan yang cukup keras hingga memutus kabel sistem saluran udara tegangan eksrta tinggi (Sutet) yang tepat di atas lokasi.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Cirebon, Muhammad Ferry Afrudin melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Penangulangan Kebakaran, Engku Nursyamsu mengatakan, pihaknya telah menerjunkan 18 kendaraan untuk memadamkan api yang membakar pabrik busa. Menurutnya, banyak kendala yang dilalui petugas dilapangan. Pasalnya lokasi kebakaran sendiri merupakan pabrik busa yang mudah terbakar serta bahan kimia.
“Petugas kami dari semalam hingga siang melakukan pemadaman, untuk area yang terbakar seluruh gudang ada di dalam pabrik dan banyaknya bahan yang mudah terbakar antar lain zat cair pembuatan busa, kertas, plastik dan busa sehingga untuk memadamkannya cukup waktu lama,” kata Engku.
Soal kerugian, kata Engku, pihaknya kini sedang melakukan pendataan kerugian akibat kebakaran di pabrik busa tersebut. “Kami masih menghitung kerugian, kemungkinan diperkiraan miliaran rupiah, mengingat semua area pabrik hangus terbakar, sedangkan untuk korban jiwa nihil,” ungkapnya.
Disinggung soal proteksi kebakaran di pabrik, Engku mengatakan, diduga di perusahaan tersebut kurang adanya alat pemadam api ringan (APAR), sehingga ketika adanya api tidak bisa langsung padam. “Diduga kurang APAR di dalam pabrik,” katanya. (Ghofar)















































































































Discussion about this post