KAB. CIREBON, (FC).- Tidak jelasnya proses distribusi pupuk bersubsidi kepada petani, membuat sejumlah petani meminta agar subsidi pupuk lebih baik dialihkan untuk subsidi penjualan gabah hasil panen petani, hal itu untuk membuat kepastian nasib petani dalam menanam padi dan bisa melatih kecerdasan petani dalam proses tanam padi untuk mampu mendapatkan keuntungan.
Kuwu Pasuruan, Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon, Muja yang juga sebagai petani padi, kepada FC mengungkapkan, dalam satu hektar lahan tanaman padi petani harus mengeluarkan modal biaya tanam dan pemeliharaan tanaman diperkirakan sekitar Rp20 juta, termasuk untuk biaya pembelian pupuk nonsubsidi sekitar per hektar bisa mencapai Rp9 juta.
Masih dikatakan Muja, jika membeli pupuk subsidi sekitar Rp3-4 juta, dari biaya yang dikeluarkan petani bila panen dalam satu hektar lahan tanaman padi mendapatkan 4 ton gabah basah dengan harga Rp3.500 per kg maka petani hanya mendapatkan hasil jual gabah basah tersebut Rp14 juta, sehingga bukan untung yang didapat justru kerugian yang diterima petani, belum lagi kalau hasil panen memgalami kegagalan yang hanya menghasilkan gabah basah dikisaran 2,5 ton, kerugian yang dialami petani semakin besar.
“Yang ada saat ini harga gabah anjlok. Sementara biaya tanam, operasianal dan pemeliharaan tanaman sangat besar, jika seperti ini terus bukan tidak mungkin petani secar berangsur akan beralih tidak menanam padi lagi,” ungkap Muja, Minggu (10/4).
Dijelaskan Muja, biaya modal tanam petani yang terbesar adalah pengadaan pupuk, sementara upaya pemerintah meluncurkan program pupuk bersubsidi arah dan sasarannya tidak jelas, banyak petani asli justru tidak mendapatkan jatah kuota pupuk bersubsidi.
Sementara, masih kata Muja, keberadaannya sangat dibutuhkan, sehingga petani berani membeli pupuk non subsidi yang harganya dua kali lipat lebih, bagi para petani harga pupuk tinggi asalkan ketersediaan ada dan gabah hasil panen ada jaminan yang memihak petani mungkin tidak mempersoalkan, tetapi kenyataan harga jual gabah jauh dari harapan para petani, saat ini harga jual gabah basah diangka Rp3.500 per kg dan harga gabah kering dikisaran Rp4.200 per kg, atas kondisi tersebut pihaknya berharap pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan standar harga minimal gabah yang bisa membantu petanu untuk tetap semangat menanam padi.
“Daripada program pupuk bersubsidi yang tidak jelas dan dimanfaatkan banyak oknum, maka subsidi pupuk lebih baik dialihkan untuk subsidi pembelian gabah, agar harga gabah bisa sesuai dengan harapan para petani untuk bisa menutupi modal tanam,” harapnya.
Ditambahkan Muja, dialihkannya subsidi pupuk untuk subsidi penjualan gabah, diyakini program pemerintah akan lebih terarah dan tepat sasaran, karena yang menjual gabah dipastikan adalah asli petani yang menanam padi.
Selain itu, petani juga bisa menjadi cerdas, karena untuk hasil tanam yang berkualitas dan berkuantitas, petani bisa saja mengalihkan yang biasanya menggunakan pupuk kimia beralih ke pupuk kandang atau kompos yang harganya bisa bikin hemat kantong para petani, petani juga bisa berfikir positif bagaimana caranya meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen karena ada jaminan harga jual gabah standar minimal pasar.
“Tinggal semua kita serahkan kepada pemerintah, apakah masih akan memilih program subsisi pupuk yang menguntungkan agen distributor pupuk dan oknum yang mengatasnamakan gapoktan, atau mau mengalihkan untuk subsisi penjualan gabah para petani yang dipastikan program tersebut menyentuh langsung para petani,” pungkasnya. (Nawawi)












































































































Discussion about this post