KOTA CIREBON, (FC).- Kondisi pasar tradisional di Kota Cirebon cukup memprihatinkan. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Jika tidak dibenahi dan dikelola dengan baik maka keberadaan pasar tradisional ini lambat laun akan terancam oleh pasar modern serta pasar online. Saat ini, dari sekitar 6 ribu pedagang di 10 pasar, tersisa hanya 3 ribu.
Mereka terpaksa gulung tikar karena tidak sanggup mempertahankan eksistensinya terhadap gempuran marketing yang lebih modern. Hal ini terungkap dalam pelantikan Pengurus Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Cirebon.
Ketua APPSI Periode 2024-2029 Romy Arif Hidajat mengaku, kondisi pasar saat ini sangat memprihatinkan, oleh karena itu ia berupaya untuk melestarikan keberadaan pasar.
“Saya akan meminta kepada Ketua DPRD untuk melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP), semua stakeholder hadir. Jadi bukan hanya para pedagang saja, supaya terjadi solusi tidak saling menyalahkan karena kondisi sekarang ini sangat memprihatinkan,” katanya, Senin (29/7).
Ia mengungkapkan, kondisi yang melemahkan keberadaan pasar diantaranya adalah toko kelontong yang buka 24 jam, penjual sayur masuk kampung, minimarket, pasar modern, toko online, dan lainnya.
“Kondisi-kondisi yang akhirnya melemahkan pedagang pasar seperti toko kelontong yang buka 24 jam, pedagang sayur sudah masuk perkampungan, pasar dadakan yang masuk komplek dan lainnya,” ujarnya.
Pihaknya meminta ada kebijakan tegas yang mengatur keberadaan pedagang tersebut agar eksistensi pasar tradisional tetap terjaga dengan baik.
“Ada ketegasan daripada pemerintah dan pengelola pasar menyikapi masalah-masalah yang ada. Aturannya seperti apa sedangkan kita mengikuti aturan pemerintah,” pungkasnya. (Frans)















































































































Discussion about this post