KUNINGAN, (FC).- Jumlah kematian massal ikan dewa di Balong Keramat Cigugur terus bertambah dan kini mencapai 923 ekor.
Data tersebut diperoleh dari hasil penghitungan kuncen kolam yang dilaporkan langsung kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan.
Kepala Dinas PUTR Kuningan, Putu Bagiasna, membenarkan laporan tersebut. Ia mengatakan informasi diterima dari kuncen yang setiap hari memantau kondisi kolam keramat itu.
“Tadi kami terima laporan dari emak-emak yang biasa di kolam, kuncen. Bersangkutan memberi tahu jumlah ikan mati sudah 923 ekor, dan saat menyampaikan sampai meneteskan air mata,” kata Putu Bagiasna kepada wartawan diruang kerjanya, Kamis (12/2).
Menindaklanjuti lonjakan kematian ikan, PUTR kini fokus melakukan perbaikan infrastruktur kolam sesuai arahan Bupati Kuningan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah membongkar bangunan outlet atau saluran pembuangan air yang dinilai menghambat sirkulasi.
“Sesuai arahan Pak Bupati, kami sudah mengerjakan pembongkaran bangunan outlet atau saluran buangan air,” ujarnya.
Upaya penanganan juga dilakukan melalui pengurasan kolam secara bertahap dengan melibatkan tim gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan BPBD Kuningan.
Penyedotan dilakukan karena genangan air dinilai tidak mengalir optimal ke saluran pembuangan.
“Kita bareng Damkar dan BPBD untuk menyedot air dalam kolam. Kegiatan ini akan terus dilakukan sampai dasar kolam benar-benar kering,” kata Putu.
Setelah kolam mengering, alat berat akan diturunkan untuk menyusuri dasar kolam dan mengangkat endapan lumpur serta sedimentasi.
PUTR juga berencana membongkar bangunan permanen yang menutup sumur alami, yang selama ini diyakini menjadi titik berkumpul ikan saat pengurasan.
“Kemudian kami akan bongkar beberapa bangunan permanen yang menutup sumur, yang menjadi tempat berkumpulnya ikan saat terjadi pengurasan,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Kuningan H Dian Rachmat Yanuar menegaskan peristiwa kematian massal ikan dewa di Balong Keramat Cigugur bukan disebabkan wabah penyakit.
Ia menyebut ikan dewa di lokasi lain di Kuningan dilaporkan tetap sehat.
“Sejak kejadian, kami sudah melakukan penanganan. Jadi saat ini bukan mencari siapa yang salah. Saya kira ini akumulasi dari kondisi lingkungan,” kata Dian kepada wartawan, Selasa (10/2).
Pemkab Kuningan, lanjutnya, akan melakukan evaluasi menyeluruh dengan pendekatan pentahelix, melibatkan unsur pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media.
Evaluasi juga mencakup pengelolaan kawasan wisata perairan yang selama ini berada di bawah pengelola setempat.
“Kami akan evaluasi semua secara menyeluruh. Termasuk rencana mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dari daerah yang memiliki habitat ikan dewa,” ujarnya.
Sebelumnya, data Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kuningan mencatat kematian ikan dewa telah menembus ratusan ekor dalam kurun hampir dua pekan.
Tim gabungan juga telah mengevakuasi ratusan ikan yang masih hidup ke kolam karantina untuk perawatan intensif.
“Kami telah mengerahkan upaya maksimal untuk menghentikan laju kematian ikan. Langkah pengobatan, karantina, dan rekayasa lingkungan terus dilakukan,” ujar perwakilan Diskanak.(Angga)











































































































Discussion about this post