“OTG ini persentasenya mencapai 51 persen, dengan gejala ringan mirip flu sebanyak 35 persen dan yang masuk rumah sakit karena sudah kepayahan ditambah penyakit penyerta sebanyak 14 persen,” sebutnya.
Kembali ke Kota Cirebon merah membara, Edi mengkhawatirkan OTG ini yang banyak menularkan kepada yang lainnya. OTG, baik berasal dari Kota Cirebon sendiri, maupun dari warga di luar kota yang beraktivitas dengan jumlah yang fantastis sekitar 2 juta orang di Kota Cirebon.
Ini yang menjadikan Kota Cirebon tidak berbatas untuk potensi penularan Covid-19 ini karena bisa masuk dari mana saja.
Edy secara pribadi menilai PSBB salah satu cara paling ideal. Namun Edy menegaskan, harus secara nasional diberlakukan. Dan hal itu berbiaya sangat mahal, untuk Kota Cirebon pada PSBB yang lalu saja membutuhkan sekitar Rp68 miliar.
“Yang buat kami di Dinkes hanya Rp13 miliar, ini untuk pertempuran dengan Covid-19 sampai Bulan Desember tahun ini saja,” cetusnya.
Pihaknya sudah melakukan swab test sebanyak 4.300 dan rapid test 8000. Tracing sudah 600 lebih dari catatan terakhir dan isolating ada 7 orang yang ditempatkan di ruang isolasi Balai Diklat BKKBN.
“Alhamdulillah untuk treatment kita sudah lakukan sebaik mungkin. Pak Sekda dan beberapa orang lainnya setelah dilakukan treatment oleh kami dinyatakan negatif Covid-19. Dengan bantuan treatment dari IDI pusat berupa azitromicyn sehari sekali selama lima hari, azitramifir sehari sekali selama tujuh hari dan vitamin C dosis tinggi 1000 mg setiap hari,” pungkasnya. (gus)















































































































Discussion about this post