KUNINGAN, (FC).- Ramainya perbincangan di media sosial soal dugaan perusakan Gunung Ciremai belakangan ini dinilai telah menimbulkan persepsi yang keliru di tengah publik.
Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang viral disebut seolah menyamaratakan seluruh aktivitas wisata di Gunung Ciremai berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Pengelola Talaga Surian Camp Park, Iman Nuryadi, menilai pemahaman tersebut perlu diluruskan agar masyarakat tidak terjebak pada generalisasi yang menyesatkan.
“Gunung Ciremai tidak hanya terdiri dari kawasan taman nasional. Ada wilayah konservasi, ada pula lahan masyarakat di luar TNGC. Status hukumnya berbeda dan tidak bisa dipukul rata,” ujar Iman, Minggu (19/1).
Ia menegaskan, kawasan TNGC sepenuhnya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai TNGC.
Setiap bentuk aktivitas wisata di dalamnya terikat aturan konservasi yang ketat.
Iman menjelaskan, Talaga Surian yang dikelola melalui TS Camp Park beroperasi di dalam kawasan TNGC sesuai zonasi pemanfaatan dan berada langsung dalam pengawasan Balai TNGC, bukan perizinan pemerintah kabupaten.
“Semua kegiatan kami mengikuti koridor konservasi. Tidak ada ruang untuk eksploitasi karena statusnya taman nasional,” tegasnya.
Sementara itu, objek wisata yang berada di luar kawasan TNGC, khususnya di lereng Gunung Ciremai pada tanah milik pribadi, memiliki sistem pengelolaan yang berbeda karena menjadi kewenangan pemerintah daerah.
“Wisata di luar kawasan konservasi tunduk pada aturan tata ruang daerah. Ini penting dipahami agar tidak terjadi salah kaprah,” kata pria yang akrab disapa Ceme itu.
Menanggapi isu pengrusakan gunung dan dugaan illegal logging yang ikut viral, Iman meminta semua pihak bersikap objektif dan mengedepankan verifikasi lapangan.
Ia tidak menampik bahwa pembalakan liar masih menjadi ancaman nyata.
Namun, menurutnya, tidak setiap kerusakan di wilayah Ciremai otomatis merupakan pelanggaran kawasan konservasi.
“Harus jelas dulu lokasinya di mana dan status lahannya apa. Jangan sampai publik digiring pada kesimpulan yang belum terverifikasi,” ujarnya.
Iman juga meluruskan kabar yang menyebut Bupati dan Wakil Bupati Kuningan menghindari kunjungan mendadak KDM ke Ciremai.
Menurutnya, ketidakhadiran kepala daerah saat itu murni karena agenda luar daerah yang telah dijadwalkan sebelumnya, sehingga hanya Sekretaris Daerah yang dapat mendampingi.
“Itu bukan menghindar, tetapi benturan agenda resmi,” katanya.
Ia menilai klarifikasi yang utuh sangat diperlukan agar isu yang berkembang tidak membentuk opini yang keliru di ruang publik.
“Informasi yang setengah-setengah bisa merugikan banyak pihak, termasuk daerah dan pengelola wisata,” ujarnya.
Iman mengajak masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi viral, terutama yang menyangkut isu lingkungan hidup.
“Gunung Ciremai adalah warisan bersama. Menjaganya perlu keseimbangan antara konservasi, pariwisata berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Angga)















































































































Discussion about this post