MAJALENGKA, (FC),- Pemerintah Kabupaten Majalengka terus menghadirkan program keagamaan yang tidak hanya seremonial, tetapi menyentuh langsung kebutuhan rohani masyarakat.
Salah satu program unggulannya adalah Subuh Akbar, yang rutin digelar setiap Ahad bersama Bupati dan Wakil Bupati Majalengka.
Pada Minggu (27/7) pagi, kegiatan ini kembali diselenggarakan dengan suasana penuh khidmat dan antusiasme para jemaah. Bertempat di Masjid Agung Al-Imam Kabupaten Majalengka, Subuh Akbar kali ini dihadiri langsung Bupati Majalengka H. Eman Suherman bersama sang istri, Hj. Iim Maemunah Suherman.
Hadir sebagai penceramah utama, KH. Ahmad Yani, Ketua At-Taqwa Centre Kota Cirebon, yang juga dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan Pengasuh Ponpes Darul Faizin, Kota Cirebon..
Kiai Ahmad Yani yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Faa’iziin Kota Cirebon, membuka ceramah dengan mengutip hikmah dari Lukmanul Hakim, Addunya bahrun “amiiqun. Artinya dunia ini seperti lautan yang luas dan dalam. Banyak orang yang tenggelam di dalamnya karena tak mampu membaca arah mata angin kehidupan, tak sanggup mencari solusi, lalu hilang di antara gelombang zaman.
“Ini menjadi isyarat penting bagi umat Islam bahwa perubahan zaman harus diikuti oleh peningkatan kemampuan dan kapasitas diri,” tegas dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Lebih lanjut, beliau pun mengutip teori dari futurolog terkenal Alvin Toffler dalam buku The Third Wave, menyebutkan bahwa sejarah peradaban manusia terbagi dalam tiga gelombang besar. Pertama Agricultural Age (era pertanian. Di mana manusia hidup dari pertanian dan teknologi sederhana.
Kedua, Industrial Age (era industri). Saat itu manusia mulai tergantung pada produksi masal dan pabrik. Dan ketiga Information Age (era informasi). Atau saat ini era di mana teknologi informasi mendominasi dalam segala bidang kehidupan.
Era digital, sambung dia, memang menghadirkan kemudahan dan efisiensi, namun juga membawa tantangan besar. Bahkan ia pun menyoroti maraknya berita hoaks, menjamurnya informasi maupun berita sampah alias tidak bermutu, hingga merebaknya kejahatan digital seperti judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol).
“Menurut data PPATK, pada tahun 2023 peredaran uang judol mencapai Rp387 triliun. Tahun 2024 meningkat menjadi Rp900 triliun dan diperkirakan menembus Rp1.200 triliun pada 2025. Ini bukan hanya merusak ekonomi keluarga, namun juga kesehatan mental, keharmonisan rumah tangga, dan kehidupan sosial,” jelasnya.
Akibat kondisi itu, dampak negatif dari kehadiran media sosial (medsos) telah menggiring masyarakat pada dekadensi moral, dan umat Islam harus memiliki fondasi yang kuat agar tidak terseret dalam arus informasi yang negatif di era digital.
3 Wasiat Nabi untuk Menjawab Tantangan Zaman
Kiai Ahmad Yani pun menyampaikan tiga wasiat Rasulullah SAW sebagai solusi menghadapi gelombang tantangan zaman di era digital saat ini. Wasiat ini pun dijelaskan oleh Imam Ashabi dalam kitab Jawāmi’ul A’māl wal Ahkām. Pertama, Al-jud min qillah (Dermawan meski dalam kekurangan).
“Orang bertakwa bukan yang kaya, tapi yang tetap berbagi meski sedang susah. Itulah ujian sejati. Ketika ekonomi sulit, ketika investasi seret, orang bertakwa tetap memilih untuk berbagi dan membantu sesama,” ujar KH. Ahmad Yani.
Kedua, Al-waro’ fil khalwah (Menjaga diri di kala sunyi).Ketakwaan tidak ditentukan oleh apa yang tampak di depan publik, tapi diuji ketika seseorang tengah berada dalam sendirian, dan tak terlihat oleh siapa pun.
“Inilah tantangan besar hari ini, di mana banyak korupsi, skandal moral, bahkan kriminalitas banyak terjadi, justru karena merasa aman saat dalam kesunyian. Tapi ketahuilah, Allah itu Maha Melihat,” tegasnya.
Ketiga, Kalimatul ḥaqq ‘inda man yurjā wa yukhāf (Berkata benar di hadapan kekuasaan). Keberanian berkata jujur, meski kepada orang yang ditakuti atau disegani atau orang yang berkuasa itu ciri utama ketakwaan.
“Tidak semua orang berani menyampaikan kebenaran kepada atasan, kepada rezim yang berkuasa, kepada tokoh yang disegani. Tapi Islam mengajarkan, katakanlah yang hak walau itu pahit,” tegasnya.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan, bahwa Program Subuh Akbar ini tak hanya menjadi ruang silaturahim antara masyarakat, tapi menjadi sarana refleksi, motivasi, dan penguatan spiritual dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Harapannya kami Majalengka itu menjadi kabupaten yang tak hanya maju secara fisik dan digital, tapi juga kuat secara moral dan spiritual,”ucap Eman.
Eman menambahkan, Program Subuh Akbar ini bukan hanya sekadar agenda keagamaan, tapi ikhtiar bersama membangun ketahanan spiritual masyarakat Majalengka, di tengah gempuran era digital yang penuh tantangan.
“Kami ingin membentuk karakter masyarakat Majalengka yang kuat, cerdas, dan bertakwa. Melalui kegiatan semacam ini, semoga terbangun kesadaran kolektif bahwa Majalengka butuh generasi yang tak hanya cakap teknologi, namun juga kokoh iman dan akhlaknya,” pungkasnya. (Munadi)











































































































Discussion about this post