KUNINGAN, (FC).- Sosialisasi berkesinambungan, harus menjadi prototipe pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Kuningan. Jangan hanya sosialisasi tapi tidak ada tindaklanjut kedepannya.
Perlu pembinaan supaya hasil sosialisasi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas. Jargon “ceblur” harus ditinggalkan.
Di masa pandemi Covid -19 ini, perlu inovasi dalam bekerja dan gaya hidup adaptif dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga hasil pekerjaan akan terasa oleh masyarakat dan tampak.
Seperti lingkungan lestari dalam visi misi Kabupaten Kuningan. Demikian pesan Bupati Kuningan H. Acep Purnama saat peluncuran Bank Sampah dan Rumah Kompos yang digagas Dinas Lingkungan Hidup Kuningan.
“Peluncuran Bank Sampah dan Rumah Kompos, dilaksanakan tidak ujug-ujug. Ada proses kesinambungan dari sosialisasi persampah di desa dan kelurahan. Namun demikian, tidak berhenti pada seremonial saja. Harus ada upaya lanjutan dari kegiatan ini,” ungkap Acep kepada FC, Minggu (25/4).
Mungkin, lanjut Acep, Bank Sampah untuk saat ini jadi gerakan efektif dalam penanganan sampah yang tak tertanggulangi oleh pelayanan Dinas LH.
Cara mengumpulkan sampah, angkut lalu buang ke tempat pembunagan akhir (TPA), bukan solusi yang baik. Sebab itu hanya pengalihan persoalan di TPA saja.
“Penanganan sampah harus dilaksanakan dari hulu. Bukan dari hilir. Siapa hulunya? Tentunya hulunya adalah rumah tangga. Jika rumah tangga mampu melakukan pemilahan antara sampah organik dan anorganik. Maka bisa dikatakan selesai. Sampah anorganik dijadikan rupiah dan organik jadi kompos,” jelas Acep.
Acep menyebutkan, jaman sekarang sangat instan, semua produk mengacu ke plastik. Bungkus makanan menggunakan styrofoam, dan bahan berplastik.
Hasilnya, sampah sejenis itu numpuk dimana-mana. Dan jika dibiarkan akan menjadi tsunami sampah. Makanya harus ada gerakan bersama-sama untuk mengatasinya.
“Jika dulu, bungkus makanan menggunakan daun pisang. Seperti lontong, buras dan seterusnya itu menggunakan organik. Sekarang kan tidak lagi. Makanya kita harus mereview adat istiadat, budaya warisan leluhur kita yang ramah lingkungan harus dijaga dan dilestarikan. Tujuannya apa, yakni lingkungan hidup yang lestari,” ungkap Acep.
Jika selama ini sampah tidak menjadi sahabat, maka Acep meminta sekarang harus jadi teman dan jadi bernilai ekonomis tinggi.
Sampah anorganik dikelola bank sampah dan dirupiahkan, kemudian ditabung. jangan dibuang sembarangan. Jenis sampah apapun yang bersifat anorganik dapat dijual kembali.
Sementara itu, Kepala DLH Kuningan Wawan Setiawan, mengungkapkan peluncuran Bank Sampah dan Rumah Kompos merupakan rangkaian puncak dalam memperingati Hari Bumi.
Diapun mengamini bahwa lingkungan yang lestari sesuai visi, misi Kabupaten Kuningan harus berawal dari adanya perubahan mindset masyarakat terhadap persampahan.
“Kita membentuk bank sampah di delapan rukun warga (RW) di Kelurahan Kuningan. Kelurahan Winduhaji, Cirendang, Sengkahan, Cigintung, dan Winduherang. Selain itu ada Desa Dukuh Dalem Kecamatan Japara, Desa Kertaungaran Kecamatan Sindangagung, Desa Ciomas Kecamatan Ciawigebang. Ini merupakan rangkaian dan pengukuhan Bank Sampah Desa Situsari Kecamatan Darma,” jelas Wawan.
Paska lebaran, sambung Wawan, pihaknya akan melanjutkan sosialisasi ke desa-desa lain dan membentuk Bank sampah.
Tujuannya melakukan penyadaran masyarakat dalam pengelolaan persampahan. Supaya ada pemilahan secara nyata di lapangan dan menghasilkan pendapatan baru dari sampah.
“Sebelumnya kita memfokuskan di wilayah perkotaan. Namun ternyata di desapun timbunan sampah cukup mengkahwatirkan. Sehingga perlu penanganan khusus. Untuk melaksanakan itu semua, kita melakukan kerja sama dengan pelbagai pihak. Diantaranya Bank Kuningan, Universitas Siliwangi, Stikes Kuningan, Universitas Pelita Bangsa Bekasi dan Universitas Kuningan,” kata Wawan.
Wawan menjelaskan bentuk kerjasama dengan pelbagai pihak pengelolaan Bank Sampah harus bersifat komprehensif tidak partisifatif.
Artinya ketika masyarakat melakukan pemilahan dan ditabung maka harus ada lembaga konvensional yang menerima tabungan persampahan itu.
“Makanya kami melakukan kerja sama dengan Bank Kuningan untuk pengelolaan rupiahnya. Teknisnya mungkin begini, Bank Sampah Unit (BSU) menerima tabungan warga. Tabungan itu harus dibuka rekening atas nama BSU. BSU melakukan penjualan sampah ke Bank Sampah Induk (BSI). Dari BSI dijual ke pabrikan daur ulang,” jelas Wawan.
Dari pabrikan itu, masih kata Wawan, akan mengalir ke rekening BSI di Bank Kuningan. Bank Kuningan melakukan pendebetan ke tabungan BSU.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Kuningan H. Dodo Wardo, membenarkan keterangan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kuningan.
Selain dukungan buku tabungan tentu hal lain akan didukung pihaknya. Hanya kita melihat perkembangan selanjutnya, apakah Program Bank Sampah ini berjalan optimal atau tidak.
“Yang jelas, kita dorong masyarakat untuk menabung dulu. Dan masyarakat merasakan manfaat atas keberadaan Bank Kuningan. Seperti tabungan persampahan, harus dirasakan manfaatnya. Misalnya menjadi tabungan umroh, emas atau minimal bayar pajak bumi dan bangunan, bisa untuk BPJS dan banyak lagi manfaat yang dirasakan,” pungkasnya. (Ali)











































































































Discussion about this post