“Saya akan berkomunikasi dengan Pak Menteri Kominfo. Satelit Kominfo masih memiliki slot yang bisa digunakan. Masalahnya, Kominfo tidak bisa mengeluarkan atau membayar ini jika tidak ada permintaan atas penggunaannya. Permintaan itu datangnya dari Kemendikbud. Ini harus segera ditindaklanjuti. Saya akan dorong Pak Menteri untuk menindadaklanjuti atas permintaan dalam webinar ini. Ini perjuangan kita bersama. Realokasi anggaran ini memungkinkan sekali. Sebab kalau ini direalokasi, sebenarnya tidak mengambil dari anggaran lain,” Enggar menegaskan.
“Ini bisa kehilangan generasi jika kita membiarkan anak-anak kita tidak belajar akibat ketiadaan akses internet. Kasihan juga guru-guru kita karena tidak bisa berbuat banyak banyak. Bagaimana mereka mau melakukan pembelajaran sementara mereka hidup saja susah. Harus membeli pulsa. Ini banyak sekali pengorbanan mereka di daerah. Hanya karena keterpanggilan mereka mau spend untuk itu,” tambah Enggar.
Penegasan serupa datang dari Retno Listyarti. Hasil survei yang dilakukan KPAI terkait PJJ menunjukkan adanya banyak masalah yang muncul. Pemicunya utamanya adalah ketersediaan akses internet tersebut.
Secara umum, guru yang mengajar di perkotaan cenderung lebih memiliki akses yang luas terhadap kepemilikan gawai atau laptop dan akses internet. Kondisi sebaliknya terjadi di daerah-daerah terpencil. Di Papua misalnya, ada 54 persen siswa tidak melaksanakan pembelajaran daring.
“Mereka itu tidak daring karena mereka tidak punya semuanya, lho. Gak ada listrik, gimana mau dengerin RRI, apalagi TVRI. Listriknya saja gak ada. Lalu, mereka juga gak punya handphone, gak punya semuanya. Jangankan di Papua, di Bogor ada 11 persen yang kayak Papua. Gak ada semuanya. Nah, ini bagaimana juga dengan anak-anak. Masa enam bulan ke depan gak ada pembelajaran apapun,” tegas Retno.
















































































































Discussion about this post