KAB. CIREBON, (FC).- Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kilau Bersama Mundumesigit, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon berupaya menjadi motor penggerak ekonomi desa, dengan meluncurkan unit usaha berupa caffe, sebagai bagian dari upaya meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan membuka lapangan kerja lokal.
Ketua BUMDes Kilau Bersama, Nurdin, kepada FC, Selasa (17/6) menuturkan, di era kepengurusan yang baru ini tekad dan semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat dan Pemerintah Desa Mundumesigit untuk menatap masa depan dengan percaya diri, membawa harapan baru lewat geliat usaha yang dikelola BUMDes.
Untuk itu, pihaknya telah mempersiapkan segala kebutuhan teknis dan administratif untuk mendukung kesuksesan usaha ini.
Lanjutnya, inisiatif peluncuran unit usaha baru tersebut direncanakan akan dilaunching di kisaran bulan Oktober 2025 mendatang, dan diyakini akan menjadi motor penggerak perekonomi desa. “Rencana launcing usaha BUMDes dijadwalkan pada Bulan Oktober 2025 mendatang,” paparnya.
Menurut Nurdin, kehadiran cafe ini diharapkan menjadi wadah ekonomi kreatif dan menjadi tempat nongkrong representatif bagi masyarakat, khususnya generasi muda di desa.
“Kami optimis bisa launching tahun ini dan menjadi tonggak awal kemandirian ekonomi desa, setelah mati suri,” ujarnya.
Dukungan penuh datang dari Kuwu Desa Mundumesigit, Syarifuddin menyatakan bahwa unit usaha ini sangat strategis.
Mengingat lokasi caffe tersebut berada di kawasan wisata religius situs Pasarean Ki Lobama Sang Penyebar Islam sebelum Era Wali Sanga yang kerap dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.
Dijelaskannya, konsep cafe yang diusung BUMDes dengan menggabungkan unsur kekinian dan nuansa lokal, menjadikannya unik di tengah geliat desa wisata. Selain menyerap tenaga kerja lokal, caffe ini bisa menjadi ikon desa dan sumber PADes yang baru.
“BUMDes juga berencana menambah lini usaha lainnya, dan menata kawasan situs pasarean Ki Lobama menjadi pusat ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di desanya,” terangnya.
Kuwu pun menyebut, keberhasilan ini tentu akan menjadi bukti konkret bahwa desa bisa mandiri secara ekonomi melalui pengelolaan usaha yang profesional dan akuntabel. Upaya ini juga selaras dengan visi pemerintah untuk memperkuat peran desa dalam pembangunan nasional.
“Melalui sinergi antara perangkat desa dan masyarakat, unit usaha caffe ini bukan sekadar bisnis, tetapi juga simbol kemandirian ekonomi desa berbasis partisipasi publik.” tandasnya.
Selin itu, dikatakan Syarifuddin, upaya pemdes untuk mendorong kemandirian ekonomi desa tidak bisa terwujud tanpa adanya dukungan dari pemerintah daerah. Artinya, sarana penunjang akses jalan maupun penunjang lainnya menjadi hal yang sangat krusial untuk dapat perhatian.
“Alhmdulillah untuk akses jalan sudah ada dari anggaran Pagu Indikatif Kewilayahan (PIK), sementara kami berharap dukungan dari Pemerintah Kabupaten untuk bantuan penunjang lainnya yakni Penerangan Jalan Umum (PJU) di lokasi tersebut,” harapnya. (Nawawi)
















































































































Discussion about this post