KOTA CIREBON, (FC).- Salah satu pesantren tertua di Kota Cirebon adalah Pesantren Benda Kerep. Pesantren yang berada di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti ini, dari dulu terkenal dengan kuatnya mempertahankan nilai islami dan tradisi setempat.
Pengasuh sekaligus sesepuh pesantren tersebut KH Muhammad Miftah bercerita, pesantren didirikan sekitar Tahun 1826 oleh seorang ulama besar KH Maulana Muhammad Soleh atau dikenal dengan Mbah Soleh. Tidak ada yang tahu persis terkait lahir dan wafatnya, namun diperkirakan Mbah Soleh satu angkatan dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan.
“Dulu Benda Kerep awalnya bernama Cimeuweuh yang dikenal sebagai hutan yang angker. Tiap orang yang masuk tidak pernah bisa keluar lagi. Demikian pula orang sakti selalu gagal menaklukkan Cimeuweuh,” tuturnya.
Kemudian atas titah Keraton Kanoman, diutuslah Mbah Soleh yang masih berkerabat dengan Sunan Gunung Jati dan sepupunya Mang Anwarudin Kriyan guna membuka hutan tersebut. Berkat ketekunannya, hutan Cimeuweuh berhasil dibuka dan diganti namanya menjadi Benda Kerep sampai sekarang.
Benda Kerep sendiri, jelas Kang Miftah sapaan akrabnya, berasal dari pohon benda yang saling berdekatan (Kerep) tumbuhnya. Akhirnya Kesultanan Kanoman memberikan lahan Benda Kerep kepada Mbah Soleh guna membuka pesantren.
Kang Miftah yang merupakan cicit Mbah Soleh menyebutkan, awal berdirinya pesantren hanya sedikit santri yang mengaji. Seiring berjalannya waktu santri mulai banyak dan berasal dari berbagai daerah Jawa dan luar Jawa.
Guna menampung santri yang makin banyak, Mbah Soleh mendirikan mushalla. Dan sampai sekarang mushalla tetap berdiri dan terawat dengan baik. Hingga akhirnya Mbah Soleh tutup usia, dimakamkan tidak jauh dari lokasi pesantren.
“Kemudian pesantren diteruskan oleh keturunannya yakni Mbah Muslim dan Mbah Abu bakar. Dan saat ini pesantren sudah diasuh oleh generasi keempat yakni saya sendiri,” ucapnya.
Benda Kerep lanjutnya, memiliki tradisi yang kuat. Seperti tetap mempertahankan tidak adanya kendaraan yang masuk. Akses masuk pun sampai sekarang tidak boleh ada jembatan. Hanya berupa galangan beton dan tali baja sebagai pegangannya. Bahkan listrik pun baru masuk pada pertengahan tahun 80an.
“Santri dan penduduk sekitar masih mempertahankan memakai sarung dan kopiah. Disamping kegiatan religi lainnya, yang menarik perhatian orang luar. Makanya ada wacana Benda Kerep mau dijadikan destinasi wisata religi oleh Pemkot Cirebon,” ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya menagih janji Pemkot Cirebon yang akan membangun tempat parkir yang memadai. Pasalnya pada kegiatan tertentu, banyak tamu maupun alumni ponpes yang datang, bisa ratusan bahkan ribuan. Otomatis kendaraan tidak tertampung dengan lahan yang ada.
“Ya kami maklum kondisi sekarang ini belum memungkinkan. Bila keadaan sudah normal ada baiknya pemerintah memberikan lapangan parkir, ini juga akan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” tandasnya. (Agus)













































































































Discussion about this post