KUNINGAN, (FC).- Agrowisata Pakuwon di Desa Pajambon, Kecamatan Kramatmulya, terus menunjukkan perkembangan pesat sejak dibangun pada 2023.
Destinasi wisata berbasis pertanian milik desa ini kini memasuki tahun ketiga pengembangan dan telah menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Kepala Desa Pajambon, Nani Ariningsih, menjelaskan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran desa.
Pada tahun pertama, sekitar Rp90 juta dialokasikan untuk membangun satu gazebo dan toilet.
Tahun berikutnya, desa menambah gazebo, saluran air, dan kolam kecil. Memasuki tahun 2025, pembangunan berlanjut dengan pembuatan kolam renang dan gazebo tambahan di area bawah.
“Kami ingin memiliki wisata mandiri milik desa. Selama ini warga hanya bergantung pada Curug Cilengkrang yang pengelolaannya ada di TNGC, dan desa hanya mendapat bagi hasil. Maka pada periode kedua, saya punya visi membangun wisata yang memberi keuntungan langsung bagi masyarakat,” ujar Nani.
Gagasan awal Agrowisata Pakuwon muncul setelah irigasi besar berukuran satu meter rampung dibangun. Saat air mengalir, banyak anak-anak setempat mandi dan bermain hingga membuat kawasan itu ramai.
Melihat potensi tersebut, pemerintah desa kemudian mengembangkannya menjadi destinasi wisata air dan pertanian yang kini dikenal luas.
Konsep agrowisata mengedepankan interaksi pengunjung dengan komoditas lokal.
Wisatawan dapat memetik jambu langsung dari pohonnya, membeli sayuran segar saat panen, serta mengenal lebih dekat hortikultura desa.
Upaya ini juga menjadi solusi menolong petani agar harga jambu meningkat.
“Selama ini harga jambu di petani sangat murah, padahal perawatannya berat. Dengan agrowisata, nilai jual naik dan petani kembali semangat merawat pohon,” tutur Nani.
Tak hanya jambu, Desa Pajambon juga mengembangkan kopi Arabika dan Robusta, termasuk UMKM pengolahan kopi.
Salah satunya Kedai Kopi Uwa, yang buka sore hingga malam dan ikut menjual produk di kawasan Cilengkrang pada akhir pekan.
Popularitas Agrowisata Pakuwon mulai melejit sejak November 2024. Kesuksesan ini mengantar Pajambon masuk program Desa Brilian BRI dan masuk 15 besar nasional.
Desa mendapat bantuan senilai Rp300 juta yang dikelola langsung oleh vendor BRI untuk pembangunan gazebo bertingkat, saung, renovasi gazebo utama, pemasangan paving, hingga pembangunan sekretariat.
Harga tiket masuk ditetapkan Rp5.000 pada hari biasa dan Rp7.000 saat akhir pekan.
Pengunjung datang dari berbagai daerah, mulai Kuningan, Cirebon, Indramayu, hingga Jakarta. Banyak wisatawan datang untuk bermain air, papalidan, atau menikmati suasana alam yang asri.
Meski berkembang pesat, kendala masih dirasakan, terutama soal lahan parkir kendaraan roda empat. Lokasi agrowisata yang jauh dari jalan utama membuat sebagian pengunjung memarkir kendaraan di masjid terdekat atau menggunakan jasa ojek.
Dampak ekonomi bagi warga sangat terasa. Dari lahan 1.400 meter yang sebelumnya hanya memberi manfaat bagi dua keluarga penyewa, kini ada 13 keluarga yang menjadi pengurus dan menerima manfaat langsung.
Warga lain pun terbantu melalui kantin, jasa ojek, dan pedagang sekitar.
Pedagang lokal, Lela (33), merasakan peningkatan penjualan yang signifikan.
“Kalau Sabtu-Minggu ramai sekali. Penjualan di warung saya naik sejak ada agrowisata,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Evi (32) asal Purwawinangun, mengaku terkesan dengan suasana Pakuwon.
“Kalau pagi atau sore adem sekali. Kalau siang agak panas, tapi cuaca cerah bikin gunung kelihatan indah. Yang paling seru bisa metik jambu langsung dan papalidan, rasanya kayak kembali ke masa kecil,” katanya.
Ke depan, Kepala Desa Nani berharap area wisata dapat diperluas agar lebih nyaman menampung pengunjung dan terus mendorong kenaikan Pendapatan Asli Desa.
“Pakuwon ini bukan sekadar tempat wisata, tapi ruang untuk pemerataan manfaat ekonomi bagi warga kami,” tutupnya. (Angga)
















































































































Discussion about this post