Oleh: Wahyudi, S.Pd
Pendiri Sekolah Al Madinah Center Cirebon
Janji Undang Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam hal ini negara menyelenggarakan sistem pendidikan yang sifatnya nasional sebagai upaya memajukan bangsa. Bicara pendidikan, kali ini kita berada pada momen Hari Guru Nasional. Pada setiap tanggal 25 November para guru dan kita semua bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Dalam Hari Guru ini harus kita jadikan sebagai momen penting untuk merefleksikan dunia guru dan pendidikan kita. Terutama wajah dunia guru kita belakangan ini banyak dihiasi oleh banyaknya kejadian konflik antara guru dengan murid dan orangtua siswa hingga berujung pada meja hijau. Selain itu yang sangat vulgar kita saksikan adalah banyaknya aksi guru turun ke jalan, melakukan demonstrasi. Dalam setiap demonstrasi itu satu hal yang menjadi tuntutan para guru yakni soal kesejahteraan guru. Kesejahteraan guru terutama guru honorer memang masih minim dan memerlukan komitmen untuk kesejahteraannya.
Kesejahteraan guru di negeri ini masih menjadi pertanyaan besar. Sebab bangsa dan Negara ini belum berani menanam investasi dalam jumlah besar untuk dunia pendidikan. Ironis memang, pendidikan yang sejatinya kunci kemajuan bangsa belum dijadikan wacana utama pada setiap proses pengambilan kebijakan.
Perhatian yang kecil terhadap dunia pendidikan ini bisa dilihat, misalnya pada setiap rapat lembaga perwakilan rakyat amatlah minim membicarakan dan memperjuangkan arti penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Jarang politisi yang perjuangan politiknya untuk dunia pendidikan. Jika keadaan demikian terus berlangsung, dapat dipastikan dunia pendidikan kita sampai kapanpun tidak akan memberikan kontribusi yang berarti bagi perbaikan bangsa.
Sebelumnya kita harus sadar bahwa syarat menjadi Negara maju bagi Indonesia sudah lebih dari cukup. Kita lihat saja negeri kita adalah Negara yang dianugrahi dengan sumberdaya yang melimpah. Anak SD juga tahu betapa bangsa Indonesia secara faktual memiliki modal sumber daya besar untuk maju. Yang membuat kita bingung adalah mengapa dengan modal yang betapa besar itu Indonesia tak kunjung sejahtera, makmur dan adil?
Disinilah sepertinya ada persoalan yang mendasar dan mengakar yang mengikat kita pada keterpurukan. Menjadi penyebab yang membuat kita sulit untuk maju. Pada tahapan inilah setiap kita akan memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain. Tanpa mengabaikan persoalan yang lain, disinilah kita masih meyakini bahwa pendidikan adalah masalah besar dan nomor satu di Indonesia yang sampai hari ini masih relevan kita bicarakan.
Seandainya saja jika dunia pendidikan kita mampu mencetak manusia yang berkualitas tinggi, maka bisa kita bayangkan, kebingungan mengapa Indonesia sulit untuk maju bisa terjawab dengan segera; yakni kualitas manusia menjadi kuncinya. Manusia seperti apa dan pendidikan yang bagaimana yang disyaratkan? Disinilah yang tetap relevan untuk kita jawab, sampai kapanpun.
Manusia menjadi kunci, penentu Negara bisa maju atau bahkan terpuruk. Ini sudah dibuktikan oleh beberapa Negara. Kita bisa belajar dari Negara lain yang sudah maju, meraka tidak memiliki kekayaan sumberdaya alam yang berlimpah, tetapi bisa membuktikan bahwa mereka mampu menjadikan negerinya makmur dan maju.
Dalam tema ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah penentu keberhasilan suatu Negara, maju atau tidaknya suatu Negara.
Pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan berorientasi pada pembentukan sikap hidup; sikap hidup ini berupa nilai dan prinsip yang menekankan pada budi pekerti, disiplin, menghargai waktu, integritas, rasa tanggungjawab, hormat aturan, bekerja keras, menepati janji dan ucapan, berusaha untuk hidup lebih baik dan nilai-nilai utama lainnya. Jadi nilai-nilai ini yang harus menjadi ukuran keberhasilan pendidikan suatu bangsa. Bukan semata-mata melahirkan ribuan manusia bergelar insinyur, psikolog, dokter dan lainnya, tetapi lebih pada orientasi pembentukan karakter sikap hidup (daya psikokultural).
Pendidikan yang berorientasi pembentukan dan pengembangan karakter (sikap hidup) ini tak dinafikan bahwa penentunya selain ada di keluarga juga terutama ada di institusi pendidikan formal (sekolah). Sebab anak-anak menghabiskan 5-8 jam per hari, maka sekolah dan pendidik (guru/dosen) memiliki peranan yang amat besar dalam pembentukan pendidikan karakter tersebut. Proses pendidikan karakter ini sulit semata dibebankan pada pihak orang tua, tidak cukup hanya orang tua yang diharapkan mengajarkannya. Apalagi di zaman sekarang seoarang ayah dan ibu sama-sama sibuk mencari nafkah untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup yang kian harin semakin mahal.Oleh sebab itu keluarga dan sekolah harus harmonis dalam mengemban pendidikan karakter.
Kebaradaan guru sebagai orang yang memegang peran besar di sekolah harus dipandang sebagai profesi yang luar biasa pentingnya, sehingga guru haruslah sosok manusia yang memiliki moral teladan, integritas karakter, intelektualitas dan memenuhi syarat kemampuan mendidik.
Betapa pentingnya peran guru, guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan dan kemajuan bangsa. Persoalannya Negara kita belum begitu besar dan sungguh-sungguh menaruh perhatian terhadap kesejahteraan guru. Kurang lebih 75 persen keadaan kesejahteraan guru kita masih memprihatinkan. Guru dituntut professional, disisi lain ia masih memikirkan kesejahteraan hidupnya. Implikasinya, mau tidak mau bahwa guru tidak fokus pada profesionalitasnya.
Negara sebenarnya bisa saja meningkatkan kesejahteraan guru jika pendidikan dianggap penting. Jika kemajuan bangsa harus dimulai dari dunia pendidikan. Maka sejatinya, Negara harus berani memulai menaruh investasi besarnya di dunia pendidikan. Kita sebagai bangsa yang besar, maju dan berperadaban harus meyakini seyakin yakinnya bahwa pendidikan adalah kunci perubahan, kunci kemajuan, kunci peradaban dan kunci kesejahteraan.
Guru sebagai kunci pendidikan. Guru sebagai pahlawan pendidikan. Guru sebagai pelita pendidikan. Guru sebagai barisan manusia yang memiliki jasa besar bagi kemajuan masyarakat dan bangsa. Keberadaan guru harus mendapat perhatian, penghargaan dan penghormatan. Tanpa guru kita bukanlah siapa-siapa, tanpa guru kita kehilangan arah hidup, tanpa guru kita berada dalam kegelapan, tanpa guru kita hidup dalam kebodohan, tanpa guru kita hidup dalam kemunduran, tanpa guru kita tidak menemukan jati diri kita sebagai manusia sejati, tanpa guru kita berdaya, tanpa guru kita tak tercerahkan dan tanpa guru bangsa ini terus terjajah sepanjang masa. Selamat Hari Guru Nasional.















































































































Discussion about this post