KOTA CIREBON, (FC).- Dalam kurun waktu yang cukup singkat yaitu 3 bulan, Muhammad Furqon Iskandar Fatah, pengusaha muda yang membuat bingkai atau frame kacamata dari limbah kayu, berhasil ekspor 10 pieces bingkainya ke Arab dan 1 pieces ke Jepang.
Pengusaha muda yang masih mengenyam bangku pendidikan strata 1 semester 5 jurusan Fisika Murni di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung ini mengawali usaha bingkai kacamata kayu ini pada bulan Agustus lalu.
Pada awalnya pun, pengusaha berusia 20 tahun ini tidaklah sekonyong-konyong langsung usaha bingkai kacamata ini. Akan tetapi, dirinya memulai usaha dengan produksi gantungan kunci atau tas.
“Awal mulai itu dari gantungan mba, dan karena modal sudah terkumpul bulan Agustus mulai usaha ini,” ujarnya, Senin (30/11).
Dan, lanjut remaja asli Majalengkai ini, dari usaha gantungan tersebut selama kurun waktu kurang lebih setengah tahun tersebutlah dirinya dapat mengumpulkan modal untuk memulai usaha bingkai kacamata kayu.
“Awalnya yang pasti karena dari usaha gantungan kunci, lalu karena ingin benar-benar mengolah limbah kayu di tukang kusen yang kerap kali terbuang atau tidak terpakai, makanya dibuatlah kacamata dari limbah kayu ini,” katanya, pada FC.
Bahan limbah kayunya pun, sambung remaja yang akrab dipanggil Furqon ini, bukan limbah kayu biasa melainkan kayu jati yang memang terkenal dengan kualitasnya, yaitu kayu Eboni dan Jati lokal.

Tidak, hanya gunakan kedua bahan tersebut ia pun lakukan impor kayu dari beberapa negara asing seperti kayu Wenge dari Afrika, kayu Walnut dan oak putih dari Amerika, kayu Zebra dari Eropa, dan terakhir Rosewood dari India.
“Kita impor beberapa kayu dari luar, karena memang untuk pemenuhan menuju pangsa pasar yang lebih luas,” ucap Furqon.
Artinya, dengan banyak pilihan yang tersedia dan berbagai kualitas yang ada diharapkan menjadi ketertarikan sendiri bagi konsumen.
Diantara kedua jenis kacamata baik yang recycle maupun yang non recycle terdapat 2 perbedaan lainnya, yaitu pada engsel kacamatanya. Untuk engsel bingkai kacamata yang berasal dari limbah Furqon gunakan dnegan kualitas biasa yang ada dipasaran lokal.
Sedangkan, untuk yang kayu impor ia gunakan engsel yang kualitas terbaik yang ia dapat dari impor pula. “Sebenarnya keduanya bagus, tapi untuk memenuhi kualitas dan kuantitas barang untuk konsumen. Karena, kan ada konsumen yang ingin kualitas terbaik maka disediakan kayu non recycle impor dengan engsel terbaik,” jelasnya.
Furqon pun memaparkan bahwa inovasi dari kedua jenis kacanatanya pun berbeda, inovasi yang kacamata hasil pengolahan ini memang tujuannya adalah kacamata berkualitas meski dari Limbah kayu.
“Jadi, ya untuk kacamata dari limbah kayu ini saya ingin mengenalkan dan menyampaikan bahwa ini loh limbah kayu yang bisa dibuat jadi kacamata,” tuturnya.
Sedangkan, produk lainnya bertujuan untuk benar-benar disasarkan pada pangsa pasar kelas menengah keatas dengan target dalam maupun luar negeri.
Kesulitan dalam pembuatan kacamata ini sendiri cukup tinggi. Sebab, berbeda dengan bahan lainnya yang bisa dicetak atau dibentuk dengan mudah, kayu ini membutuhkan ketelitian pemahatan dan pengrajinan yang lebih detail.
“Wah, sulit banyak banget tapi, salah satunya itu ukuran ketika ada perbedaan 1mm atau nol koma sekian saja pasti gagal,” ungkap Furqon.
Namun, beruntungnya hingga saat ini Furqon tak mengalami kegagalan untuk produksi kacamata kayu yang berbahan impor. Berbeda dengan yang impor untuk yang berbahan limbah beberapa kali pengrajin alami kegagalan.
“Ya, Alhamdulillah sih yang seperti ini (kacamata impor) ga ada dan jangan sampai. Tapi, untuk yang limbah ada aja sih yang gagal,” ucap Furqon.
Karena memang, lanjut Furqon, tenaga pengrajin yang menangani kacamata yang non limbah atau recycle ini benar-benar sudah professional, dan untuk bahan yang limbah itu tenaga pengrajin yang biasa. “Khusus dan sudah pro banget dia, dan memang selain mengerjakan kacamata orang ini juga yang mengerjakan produksi usaha gantungan kunci saya dan termasuk saya juga,” tandasnya.
Dari seluruh tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) yang ia miliki sendiri terdapat 4 termasuk Furqon sendiri, yang 2 diantatanya mengerjakan pekerjaan untuk kacamata yang limbah kayu.
Disisi lain, terkait berapa banyak pieces kacamata yang telah ia jual. Untuk saat ini, belum hingga ratusan akan tetapi, produknya telah memasuki negara-negara besar seperti Arab dan Jepang, dan bulan lalu ia mengekspor ke Singapura.
Adapun untuk pembelian dari dalam negeri, karena baru berjalan 3 bulan. Masih orang-orang terdekat dan relasi saja yang melakukan pemesanan. Akan tetapi, dirinya yakin bahwa usaha miliknya dapat maju dan sukses. Terlebih, keluarga sangat-sangat mendukung usaha yang dibinanya, juga memberikan bantuan modal usaha baginya.
Hingga saat ini, sebenarnya Furqon sendiri tidak menyangka bisa membangun usaha yang luar biasa dari awalnya coba-coba hingga kini justru nyaman. “Gak nyangka banget, awalnya juga jalanin santai tapi bener dijalaninnya tapi ga nyangka bisa sebesar ini,” ujarnya dengan antusias.
Tetap, baik keluarga maupun Furqon tidak akan melupakam dan melalaikan tugas utama sebagai seorang mahasiswa yaitu belajar. Karena, bagaimanapun juga pendidikan adalah hal utama. (Sarrah/Job/FC)












































































































Discussion about this post