KAB.CIREBON, (FC).- Tradisi Kawin Tebu di Pabrik Gula (PG) Sindanglaut, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon kembali digelar meriah, Senin (11/5).
Tradisi yang telah berlangsung sejak 1896 atau sekitar 130 tahun lalu itu menjadi penanda dimulainya musim tebang dan giling tebu tahun 2026.
Ribuan warga tampak memadati kawasan pabrik sejak pagi untuk menyaksikan prosesi dua batang tebu pilihan yang dihias menyerupai sepasang pengantin.
Kedua tebu kemudian diarak keliling sebagai simbol doa, keberkahan, dan harapan hasil panen melimpah bagi petani tebu.
Bagi masyarakat sekitar, Kawin Tebu bukan sekadar tradisi budaya, melainkan pesta rakyat yang selalu dinanti setiap musim giling tiba. Tradisi tersebut bahkan kerap disebut sebagai “Lebarannya” para petani tebu.
Suasana semakin meriah saat prosesi sawer uang dilakukan. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias berebut koin yang dilemparkan panitia.
Sekretaris APTRI DPC PG Sindanglaut, Ali Mazazli, mengatakan tradisi Kawin Tebu menjadi simbol kebersamaan sekaligus doa agar musim giling berjalan lancar dan membawa kesejahteraan bagi petani maupun pabrik gula.
“Tradisi ini menjadi simbol harapan dan keberkahan bagi petani tebu serta seluruh masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pergulaan,” ujarnya.
Menurutnya, tebu yang dihias layaknya pengantin melambangkan sumber kehidupan dan kebahagiaan masyarakat sekitar.
Ia menjelaskan, tradisi tersebut juga dimaknai sebagai simbol komitmen antara petani dan pihak pabrik. Petani menyerahkan hasil panen terbaiknya untuk diolah, sementara pabrik berkomitmen menjaga kualitas produksi gula.
Sementara itu, General Manager PG Sindanglaut, Rony Kurniawan, mengatakan pihaknya menargetkan produksi gula tahun ini mencapai 14 ribu ton dengan rendemen sebesar 7,3 persen.
“Tradisi ini sudah berjalan selama 130 tahun sebagai bentuk rasa syukur sebelum musim giling dimulai. Kami optimistis target produksi tahun ini tercapai,” katanya.
Optimisme tersebut didukung kondisi cuaca yang diprediksi lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, harga gula di tingkat produsen yang mencapai sekitar Rp15 ribu per kilogram turut meningkatkan semangat para petani.
Masyarakat berharap tradisi Kawin Tebu tetap lestari sebagai warisan budaya sekaligus menjadi simbol kebangkitan sektor pergulaan dan meningkatnya kesejahteraan petani tebu di Kabupaten Cirebon. (Nawawi)

















































































































Discussion about this post