KAB.CIREBON, (FC).- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, menjadi penopang hidup bagi Karniah, seorang ibu yang tinggal terlantar bersama bayinya di sebuah gazebo selama tujuh bulan terakhir.
Perempuan tersebut hidup bersama anaknya, Siti Karisah, yang masih berusia sekitar tujuh bulan. Gazebo sederhana di seberang dapur MBG menjadi tempat berteduh satu-satunya dari panas dan hujan.
“Sejak hamil saya sudah tinggal di sini. Tidak punya tempat lain,” ujar Karniah, Selasa (28/4).
Ia mengaku terpaksa tinggal di tempat terbuka setelah diusir orang tuanya. Kondisi itu diperberat minimnya perhatian suami yang tidak tinggal bersamanya dan hanya memberi nafkah sekitar Rp10 ribu per hari.
Di tengah keterbatasan tersebut, dapur MBG yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Beringin menjadi sumber makanan utama. Setiap hari, Karniah menerima makanan dari pengelola dapur.
“Alhamdulillah, setiap hari bisa makan dari sini. Sangat membantu,” katanya.
Namun bantuan itu hanya sebatas konsumsi. Saat dapur MBG tidak beroperasi, Karniah harus bergantung pada belas kasihan warga sekitar untuk makan.
Kepala Dapur SPPG Desa Beringin, Wahyu Cahyanuddin, membenarkan pihaknya rutin membantu Karniah.
“Ibu Karniah memang tinggal di depan dapur. Kami setiap hari berikan makanan semampu kami,” ujarnya.
Menurut dia, bantuan tersebut belum mampu menjawab kebutuhan utama Karniah, yakni tempat tinggal layak bagi dirinya dan sang bayi.
Karniah mengaku pernah menerima bantuan dari pemerintah desa, namun tidak berlanjut. Saat mengajukan permohonan tempat tinggal, ia diminta menunggu hingga dua tahun mendatang.
“Katanya disuruh sabar, bantuan belum bisa sekarang. Paling dua tahun lagi,” ungkapnya.
Selama tujuh bulan tinggal di gazebo, Karniah harus menghadapi cuaca dingin saat malam dan hujan. Kondisi itu dinilai memprihatinkan karena bayinya membutuhkan lingkungan aman dan sehat untuk tumbuh kembang.
Kisah tersebut menunjukkan program MBG mampu meringankan kebutuhan pangan warga rentan, namun persoalan mendasar seperti tempat tinggal layak masih belum terselesaikan.
“Saya hanya ingin tempat tinggal yang layak untuk anak saya,” harap Karniah. (Ghofar)

















































































































Discussion about this post