MAJALENGKA, (FC),– Sejumlah pedagang ayam keliling di Kabupaten Majalengka, mengeluhkan kenaikan harga daging ayam yang dinilai cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Harga yang semula stabil di kisaran Rp 36 ribu per kilogram, kini merangkak naik menjadi Rp 47 ribu hingga Rp 48 ribu per kilogram.
Seorang pedagang ayam keliling asal Majalengka, Anisa menyebut kenaikan harga ini sangat memberatkan para penjual kecil. Jika biasanya ia mampu menjual hingga 40 kilogram ayam per hari, kini hanya mampu mengambil sekitar 15 kilogram saja.
“Sekarang untung sudah tidak seberapa. Malah banyak pedagang yang berhenti berjualan, termasuk di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Maja. Semua sama-sama mengeluh karena stok ayam terbatas,” ungkap Anisa, Rabu (17/9).
Menurutnya, keterbatasan pasokan ayam di tingkat peternak dipengaruhi dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diduga menyerap pasokan ayam langsung dari kandang, sehingga ketersediaan untuk pedagang kecil semakin berkurang.
“Kalau stok diambil banyak untuk program itu, otomatis kami kekurangan. Dampaknya harga naik, sementara daya beli masyarakat turun. Akhirnya penjualan kami juga terhantam,” jelasnya.
Anisa yang sudah berjualan ayam keliling selama tujuh tahun berharap pemerintah dapat meninjau ulang mekanisme program MBG. Menurutnya, akan lebih efektif jika bantuan diberikan langsung berupa uang tunai kepada orang tua siswa agar lebih merata dan tidak menekan pasar tradisional.
“Benar kata Pak Gubernur KDM, yang baik itu uangnya saja langsung diberikan kepada orang tua. Kalau melalui MBG begini banyak keluhan, bahkan ada yang bilang makanan dari program MBG tidak termakan anak-anak,” katanya.
Para pedagang ayam di Majalengka berharap ada solusi dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, khususnya daging ayam, agar pedagang kecil tetap bisa bertahan dan masyarakat tidak semakin terbebani.
Tak hanya pedagang, masyarakat juga ikut merasakan dampak dari kenaikan harga ayam. Seorang warga Majalengka, Ratnasari mengaku kesulitan mendapatkan daging ayam di pasar.
“Sekarang beli ayam susah, pas masih ada yang jual harganya mahal. Di hari biasa tidak seperti ini, tapi sekarang di pasar Cigasong banyak pedagang yang tidak jualan. Katanya sempat ada aksi demo juga, pedagang memilih berhenti jualan karena harga terus naik,” ujarnya.
Ia menambahkan, di Pasar Cigasong sempat hanya ada satu dua pedagang yang berjualan, sementara lainnya memilih tidak membuka lapak. Kondisi itu membuat harga ayam semakin melonjak hingga Rp 47 ribu sampai Rp 48 ribu per kilogram.
“Kalau sudah begini, kami yang belanja juga repot. Apalagi ini bukan hari besar, tapi harga naiknya sudah tinggi sekali,” keluhnya.
Baik pedagang maupun pembeli berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga ayam di Majalengka.
Mereka menilai, jika program MBG terus menyerap pasokan langsung dari peternak, maka pedagang kecil dan masyarakat akan semakin kesulitan.
Situasi ini menambah panjang daftar keluhan masyarakat Majalengka terkait kebutuhan pokok yang kian mahal. Pedagang dan pembeli berharap adanya langkah cepat agar pasokan ayam kembali normal dan harga bisa kembali terjangkau. (Munadi)














































































































Discussion about this post