MAJALENGKA,(FC),– Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Majalengka melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pengawasan Partisipatif di SMKN 1 Panyingkiran pada Senin, (11/8).
Kegiatan tersebut dihadiri seluruh siswa dari kelas X hingga kelas XII sebagai bagian dari upaya pendidikan politik sejak dini kepada generasi muda, khususnya dalam konteks pengawasan pemilu.
Melalui sosialisasi ini, Bawaslu memperkenalkan tugas dan fungsi lembaga kepada para siswa, sekaligus mengajak mereka untuk berperan aktif sebagai pengawas partisipatif dalam setiap tahapan pemilu dan pilkada.
Hal ini menjadi penting mengingat para siswa tersebut akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029 mendatang.
“Kami ingin para siswa disini memahami pentingnya menjadi pemilih cerdas dalam arti tidak memilih secara asal, tetapi berdasarkan pengetahuan akan rekam jejak dan karakter para calon,” ujar Dede Rosada selaku Ketua Bawaslu Kabupaten Majalengka dalam paparannya.
Sebagai bentuk pembelajaran kontekstual, Bawaslu juga menekankan bahwa pemilihan Ketua OSIS di sekolah merupakan miniatur dari proses demokrasi yang sebenarnya. Dari proses tersebut, siswa diharapkan dapat memahami pentingnya nilai-nilai integritas, transparansi, dan tanggung jawab dalam memilih pemimpin.
Dalam sesi pemaparan, Bawaslu juga menjelaskan berbagai potensi pelanggaran dalam pemilu, seperti tindak pidana pemilu, pelanggaran administrasi, dan pelanggaran kode etik.
Contoh konkrit seperti praktik money politics atau ajakan memilih calon tertentu secara tidak sah dibahas agar siswa memiliki wawasan kritis terhadap potensi kecurangan dalam proses demokrasi.
Pihaknya menegaskan bahwa pengawasan terhadap jalannya pemilu tidak bisa hanya dilakukan oleh lembaga saja, mengingat keterbatasan sumber daya manusia.
Oleh karena itu, partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan pelajar, sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pemilu yang jujur dan adil.
Di akhir kegiatan, para siswa diajak untuk tidak lagi berpandangan bahwa politik adalah sesuatu yang kotor. Sebaliknya, mereka didorong untuk mulai melek politik, berpikir kritis, dan belajar mengelola waktu serta tujuan dengan baik, sebagai bekal menjadi pemilih dan warga negara yang bertanggung jawab.
Kegiatan yang digelar Bawaslu Majalengka ini, semoga menjadi langkah awal yang strategis dalam menciptakan budaya demokrasi yang sehat dan inklusif, dimulai dari lingkungan sekolah. (Munadi)












































































































Discussion about this post