”Karenanya, produksi garam pada tahun ini hanya sekitar 20 ribu ton. Yang ini sudah terserap,” kata Taufik.
Taufik menambahkan, produksi garam di Jabar sekarang ini sebagian sudah mulai berhenti. Pasalnya, hujan sudah mulai turun. Kondisi itu seperti yang terlihat di daerah Losari – Mundu, Kabupaten Cirebon.
Sedangkan untuk Mundu – Bungko, sekitar sepuluh persen yang masih berjalan. Untuk wilayah Losarang, Kabupaten Indramayu, juga masih berjalan.
Untuk meningkatkan harga garam di tingkat petambak, maka kualitas garam harus ditingkatkan. Caranya, dengan penerapan sistem geo membran. Taufik menyatakan, pemerintah harus membantu petambak untuk menerapkan geo membran.
Namun, bantuan itu harus pula diiringi dengan pembinaan dan diberikan kepada yang benar-benar membutuhkannya.
‘’Jangan seperti 2015. Geo membran diberikan, tapi tidak ada pembinaan sehingga petambak tidak mengerti penggunaannya,’’ tandas Taufik.
Teknologi geomembran merupakan sistem produksi garam dengan cara air laut dialirkan ke dalam kolam penampungan terlebih dahulu, lalu dilakukan filterisasi dengan menggunakan ijuk sapu, batok kelapa dan batu zeolit
Hal itu dibenarkan salah seorang petambak garam di Kecamatan Losarang, Robedi. Dia mengatakan, produksi garam di wilayahnya hingga kini masih berjalan.
”Tapi tidak maksimal karena hujan sudah mulai turun,” terang Robedi.
Robedi mencontohkan, untuk lahan garamnya seluas 30 hektare, hanya mampu menghasilkan 70 ton untuk empat hari produksi. Sedangkan tahun lalu, selama empat hari itu bisa menghasilkan 100 ton.
”Minggu kemarin produksi itu sudah terlihat bagus. Tapi saat hendak dipanen, hujan turun sehingga akhirnya gagal,’’ tutur Robedi.
Selain faktor cuaca yang menyebabkan produksi garam tahun ini berkurang, lanjut Robedi, minat petambak garam di wilayahnya pada tahun ini juga menurun. Dia menyebutkan, luas lahan garam di wilayah Kecamatan Losarang ada sekitar 2.500 hektare.
Namun tahun ini, lahan yang diolah menjadi tambak garam hanya 50 persennya. Pemicu utamanya, rendahnya harga garam di tingkat petambak. Selain itu, tidak terserapnya seluruh garam yang mereka produksi pada tahun lalu.
”Harga garam sempat Rp 200 per kg,” ungkapnya. (Agus)











































































































Discussion about this post