KUNINGAN, (FC).- Persoalan limbah kotoran hewan (kohe) sapi di Desa Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, menjadi perhatian kalangan akademisi. Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan bersama Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan solusi pengelolaan limbah secara terpadu.
Kegiatan yang berlangsung di Grand Cordela Hotel AS Putra Kuningan, Selasa (21/7), mengusung tema “Governance Berbasis Kolaborasi untuk Pengelolaan Kotoran Sapi: Peran Pemerintah Daerah, Koperasi, dan Swasta di Cipari, Kabupaten Kuningan.”
FGD tersebut merupakan bagian dari Hibah Penelitian Diktisaintek Berdampak melalui skema Penelitian Kerja Sama antar Perguruan Tinggi (PKPT).
Melalui kegiatan ini, kedua perguruan tinggi berupaya menghadirkan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi solusi atas persoalan limbah peternakan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Rektor UNISA Kuningan, Dr. Nurul Iman Hima Amrullah, M.Si., mengatakan kolaborasi penelitian tersebut menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan limbah kotoran sapi tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki peluang ekonomi apabila dikelola secara tepat.
“Kegiatan kerja sama penelitian ini sangat baik dan menjadi salah satu solusi terhadap permasalahan kohe, khususnya di Cipari dan umumnya di Kabupaten Kuningan. Harapannya, peran semua pihak mulai dari pemerintah daerah hingga peternak bisa berjalan maksimal sehingga masalah ini dapat diselesaikan dan memberikan dampak positif secara ekonomi,” ujar Nurul Iman.
Ketua Tim Peneliti Pengusul UNISA Kuningan, Cecep Nana Nasuha, M.Si., bersama Ketua Peneliti Pendamping Mitra (TPM) dari UNPAS, Prof. Dr. Lia Muliawaty, M.Si., menjelaskan bahwa FGD tersebut menjadi tahap penting untuk menggali kondisi nyata pengelolaan limbah sapi di lapangan.
Berbagai masukan dari pemerintah daerah, koperasi, akademisi, hingga peternak akan dianalisis untuk menghasilkan policy brief atau rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan Integrative Framework for Collaborative Governance (IFCG) yang dikembangkan Emerson dkk. (2012).
Pendekatan ini menitikberatkan pada tiga aspek utama, yakni keterlibatan bersama (principled engagement), motivasi bersama (shared motivation), serta kapasitas aksi bersama (capacity for joint action).
Dalam kegiatan tersebut, berbagai sektor turut memberikan pandangan. Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan, Rismunandar, S.Hut., M.Si., membahas aspek regulasi, capaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH), serta strategi pengelolaan limbah.
Sementara itu, perwakilan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, Nandang Sugema, S.AP., memaparkan potensi pemanfaatan kohe sapi, termasuk tantangan yang masih dihadapi dalam pengelolaannya.
Dari sektor pertanian, Kepala Bidang Penyuluh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Ucen, S.E., menyampaikan pentingnya model pengelolaan limbah berkelanjutan untuk mendukung produktivitas pertanian.
Adapun sektor ekonomi turut menjadi perhatian melalui paparan Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kuningan, Tri Guna H, yang membahas penguatan koperasi produsen susu sapi perah di Cipari agar mampu berkembang lebih besar.
FGD tersebut juga dihadiri Camat Cigugur, Lurah Cipari, unsur akademisi, UPTD KPP Kuningan, BPP Kuningan, perwakilan Koperasi Produsen Karya Nugraha dan Larasati, serta para peternak sapi.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, UNISA Kuningan dan UNPAS berharap pengelolaan limbah kotoran sapi di Cipari tidak lagi menjadi persoalan lingkungan, tetapi dapat berkembang menjadi potensi ekonomi yang mendukung kesejahteraan peternak dan masyarakat. (Angga)







































































































Discussion about this post