KAB.CIREBON, (FC).- Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, mulai memantapkan langkah pengembangan pariwisata berbasis alam dan budaya sebagai strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal yang berkelanjutan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Kawasan Wisata bertajuk “Pengembangan Pariwisata Berbasis Alam dan Budaya untuk Kemakmuran Lokal yang Berkelanjutan” yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kecamatan Sedong di Caffe Gedong Gincu, Selasa (3/2).
Forum ini dihadiri Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, R Hasan Basori, unsur Pemerintah Kecamatan Sedong, para kuwu, serta anggota Pokdarwis dari berbagai desa.
Salah satu anggota Pokdarwis, Hendrik, menyampaikan bahwa diskusi ini menjadi ruang konsolidasi untuk menyusun strategi bersama dalam membangun pariwisata Sedong yang inklusif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, kesadaran akan potensi lokal menjadi titik awal pengembangan wisata, meskipun karakteristik tiap desa berbeda-beda. Kecamatan Sedong, kata Hendrik, memiliki kekayaan alam dan sejarah yang beragam, mulai dari sektor pertanian, perbukitan, hingga jejak sejarah yang berkontribusi pada lahirnya Cirebon.
“Awalnya saya berpikir wilayah kita tidak bisa bersaing dengan daerah lain karena keterbatasan modal,” ungkap Hendrik.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tantangan utama pengembangan pariwisata bukan semata persoalan anggaran besar, infrastruktur mewah, atau fasilitas modern.
“Kita bisa memulai dari apa yang ada. Kuncinya adalah integrasi antar destinasi wisata di Sedong agar tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak terjebak ego sektoral,” tegasnya.
Hendrik juga memaparkan sejumlah destinasi yang mulai dikenal di Kecamatan Sedong, di antaranya Bukit Pasir Salawe di Desa Kertawangun, wisata susur sungai yang memiliki mata air Liang Putri yang dipercaya masyarakat memiliki nilai historis dan spiritual, serta bentang alam persawahan luas di berbagai desa yang dinilai memiliki daya tarik visual namun belum dimaksimalkan.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, R Hasan Basori, menyebutkan bahwa secara tata ruang, Kecamatan Sedong telah ditetapkan sebagai kawasan wisata. Bahkan, terdapat enam hingga tujuh desa yang telah mengantongi Surat Keputusan (SK) Desa Wisata.
Namun, ia mengkritisi pendekatan pengembangan pariwisata yang masih bersifat parsial, sehingga seringkali menyulitkan pemerintah daerah dalam pengalokasian anggaran akibat keterbatasan Dana Desa dan status aset wisata yang sebagian besar merupakan milik masyarakat.
“Pariwisata tidak bisa dibahas sepotong-sepotong. Saya mendorong Pokdarwis untuk berani berinovasi tanpa bergantung pada APBD maupun Dana Desa,” ujarnya.
Hasan Basori mengusulkan konsep integrasi rute wisata berbasis pengalaman, dengan memetakan titik-titik prioritas yang dapat diakses melalui jalur mobil Jeep atau motor trail. Rute tersebut, lanjutnya, dapat dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan wisata dengan pengalaman khas di setiap titik.
“Misalnya, menikmati buah lokal, menyaksikan matahari terbit di Bukit Pasir Salawe, mengunjungi sumber air Liang Putri, hingga menikmati ubi rebus dan kelapa di Panongan Lor yang disiapkan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan wisata tersebut dapat dilakukan tanpa ketergantungan pada APBD, termasuk dalam hal digitalisasi promosi dan rute wisata. Menurutnya, peluang kerja sama dengan pihak swasta, seperti perbankan nasional, terbuka lebar.
“Intinya adalah membangun kreativitas, kolaborasi, dan memastikan setiap desa memperoleh manfaat melalui integrasi wisata berbasis pengalaman dan budaya,” tegasnya.
Hasan Basori juga menyoroti perubahan paradigma pariwisata global yang kini bergeser dari konsep sun, sea, and sand menuju wisata yang menekankan kedamaian, keberlanjutan, dan spiritualitas. Ia mencontohkan besarnya minat wisatawan terhadap rute ziarah makam bersejarah, seperti Sunan Gunung Jati.
Meski mengakui penguatan sektor pariwisata di tingkat kecamatan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon belum maksimal, ia berharap berbagai program kebudayaan yang telah berjalan dapat dikolaborasikan melalui konsep one stop tourism yang terintegrasi. (Nawawi)


















































































































Discussion about this post