Menurut Sukirah, kondisi tersebut berkelanjutan hingga saat ini, suaminya yang kembali bekerja serabutan terkadang ada pekerjaan terkadang menganggur, penghasilan yang tak menentu tersebut sangat tidak mungkin kalau harus memperbaiki rumah.
Untuk mencukupi, kata dia, kebutuhan hidup sehari-hari saja tidak tercukupi, terlebih beban tersebut bertambah seiring kedua anaknya tumbuh remaja dan harus menyelesaikan pendidikannya, saat ini anak pertamanya duduk di kelas 3 SLTA sementara adiknya masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar.
“Jangankan untuk memikirkan membereskan rumah, untuk biaya sekolah saja bingung, bahkan anak saya sempat diberhentikan dari sekolah gara-gara tunggakan biaya, akhirnya anak saya pindah sekolah agar pendidikan anak saya tetap bisa lanjut, “terangnya.
Sekitar lima tahun silam, aku Sukirah, dirinya masih tercatat sebagai Keluarga Pra Sejahtera, sehingga mendapat fasilitas bantuan PKH dan juga nendapat KIS, tetapi ketika pandemi Covid-19 dan muncul banyak bantuan sosial, nama dirinya terdepak dari penerima PKH karena harus melakukan pembaharuan NIK dan KK.
Namun, setelah NIK dan KK diperbaharui, nama dirinya hingga saat ini belum terdaftar lagi di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) meskipun sudah didaftarkan kembali oleh petugas Puskesos desa.















































































































Discussion about this post