KAB.CIREBON, (FC).- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon menjelaskan penyebab terjadinya penumpukan sampah di sejumlah tempat pembuangan sementara (TPS) yang belakangan dikeluhkan masyarakat.
Tingginya volume sampah harian yang masuk serta gangguan operasional di tempat pembuangan akhir (TPA) disebut menjadi faktor utama keterlambatan pengangkutan.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, mengatakan kendala teknis pada alat berat maupun mesin di TPA dapat berdampak langsung terhadap proses pengangkutan sampah dari TPS ke lokasi pembuangan akhir.
“Alat berat maupun mesin tentu memiliki potensi gangguan. Ketika terjadi kendala selama satu atau dua hari, sampah yang masuk akan menumpuk dan antre untuk ditangani,” ujar Dede, Sabtu (30/5).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dipahami karena volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari terus meningkat. Karena itu, penanganan persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah.
Ia menegaskan, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat dan pelaku usaha, melalui pengurangan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
Dede meminta para pelaku usaha, khususnya rumah makan, restoran, dan warung makan, mulai mengelola sampah secara mandiri dengan melakukan pemilahan dan pengolahan sesuai jenisnya.
“Pelaku usaha seperti rumah makan dan restoran harus mulai mengolah sampahnya sendiri agar tidak seluruhnya dibuang ke TPA,” katanya.
Ia menjelaskan, sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun briket sebagai bahan bakar alternatif. Sedangkan sampah anorganik, terutama plastik, dapat dimanfaatkan menjadi RDF (refuse derived fuel) yang memiliki nilai ekonomi dan energi.
Menurut Dede, pengolahan sampah menjadi briket juga sejalan dengan program yang tengah didorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bahkan hasilnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar bagi sektor industri.
Selain itu, sejumlah wilayah di Kabupaten Cirebon telah mulai menerapkan pengolahan sampah menjadi RDF, di antaranya Palimanan Barat, Gempol, dan Desa Ciawigajah.
DLH juga mengajak masyarakat membiasakan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga. Sampah organik dapat diolah melalui komposting maupun biopori, sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA dapat ditekan.
“Jika hanya sampah plastik yang dibuang ke TPA, beban sampah akan berkurang cukup signifikan dan usia pakai TPA bisa lebih panjang,” ujarnya.
DLH berharap kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah terus meningkat sehingga persoalan penumpukan sampah di TPS dapat diminimalkan dan tidak terus berulang di masa mendatang. (Ghofar)












































































































Discussion about this post