KAB.CIREBON, (FC).- Ratusan penari Jaya Perbangsa dari sanggar Wismala Ciledug ikut meramaikan acara Cai Diraga Ciledug tahun 2025 yang dipusatkan di alun-alun Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon, acara tersebut digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu (6-7/9).
Penasehat Yayasan Midang Waringin Jati, selaku penyelenggara kegiatan Cai Diraga, Herman menjelaskan, acara Cai Diraga merupakan acara tradisi masyarakat Kecamatan Ciledug yang digelar rutin setiap tahun dan mengambil lokasi berpindah-pindah desa.
Pada tahun 2025 ini pihaknya menggelar di Desa Ciledug Kulon Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon dengan acara ritual larung di jembatan gantung Blok Kebon Awi Desa Ciledug Wetan.
Sementara untuk acara pagelaran seni budaya digelar di alun-alun Kecamatan Ciledug dengan menyuguhkan rentetan penampilan seni dan budaya, dari mulai gerak jalan kebudayaan, sendratari dari berbagai sanggar, dua lintas iman, ngunjung buyut, gelar karya Giri Katasna, kirab budaya, seni burok, dan puluhan penampilan seni tari lain baik dari sanggar di Ciledug maupun dari luar Kecamatan Ciledug sebagai bintang tamu.
“Ada salah satu yang menarik dalam acara Cai Diraga tahun ini, dimana hadirnya penampilan 500 penari Jaya Perbangsa dari sanggar Wismala Ciledug yang menari secara kolosal,” ungkapnya.
Lanjut dijelaskan Herman, cai diraga merupakan prosesi adat kebudayaan masyarakat Ciledug. Dengan adanya tradisi cai diraga adalah momentum menyatukan air dari 9 sumur keramat yang ada di darat untuk disatukan dengan air sungai.
Air dari sembilan sumur keramat tersebut setelah didoakan dan dilarungkan ke sungai diharapkan impian masa depan masyarakat bisa sampai kepada tujuan, yang dimanifestasikan sebagai muara laut, apa yang menjadi harapan selain itu makan lain adalah, air yang selama ini muncul di darat bisa lancar ke sungai jangan sampai air sungai yang mengejar ke darat yang dampaknya banjir.
“Air membutuhkan sarana, kita juga membutuhkan air, maka harus harus ada kebutuhan timbal balik dengan kebijakan yang komprehensif terkait pengolahan air supaya bisa memberikan dampak kehidupan yang lebih positif kepada masyarakat,” terangnya.
Dijelaskan Herman, banyak sejarah tentang masyarakat zaman dulu yang sangat kuat dalam memelihara air, boleh dibilang banyak menemukan sejarah memperlihatkan nenek moyang sangat bisa memelihara dan menata air bagaimana air yang mengalir ke sungai.
Air yang bisa diambil air bersihnya dan juga bisa untuk mengaliri air sawah mereka sehingga kesuburan tanah yang dihasilkan dari air yang didapat, persoalan sekarang menjadi berbeda, masyarakat tidak mendapatkan fungsi sungai sebagaimana mestinya, air tidak memberikan makna kehidupan yang baik karena adanya kemajuan zaman yang tidak menitikberatkan kepada kearifan lokal.
Sehingga tidak saling mendukung, yang terjadi saling bersinggungan sehingga yang dirasakan sungai kotor, limbah masuk ke sungai, kualitas tanah berkurang menjadikan petani sangat terganggu, dulu dengan cangkul saja cukup sekarang harus dengan traktor dan pupuk juga harus lebih kuat lagi untuk meningkatkan kesuburan berawal karena tidak bisa menjaga air.
“Air milik semua makhluk, maka patut bergandengan tangan atas dasar spirit yang sama untuk saling menjaga lingkungan, wajib saling tolong-menolong, saling bahu membahu, supaya apa yang diimpikan bisa dilakukan secara bersama-sama, baik dari sisi sosial, perekonomian, keamanan, pertanian, UMKM menyikapi rasa persatuan jiwa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia,” harapnya. (Nawawi)











































































































Discussion about this post