Rahardjo juga menyampaikan, jabatan sebagai polmak tidak selamanya atau hanya sementara. Menunggu semua keluarga besar keraton berkumpul dan menentukan sultan baru yang definitif. Pihaknya meminta dia restu semua pihak, dalam menjalankan amanah ini.
Sebagai polmak, Rahardjo akan melakukan berbagai perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan di dalam Keraton Kasepuhan. Ini demi mengembalikan marwah dan kejayaan keraton itu sendiri. Dan yang penting agar Keraton Kasepuhan tetap bisa berdiri lebih lama lagi.
Bersama internal keraton, pihaknya akan melakukan proses tahapan pemilihan sultan yang baru. Termasuk dari keluarga PRA Arief akan diikutsertakan, ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa dan pengabdiannya.
Disinggung hubungan dengan keraton dan putra mahkota, Rahardjo mengutarakan bahwa dirinya telah lama menjalin hubungan komunikasi dengan almarhum PRA Arief Natadiningrat. Namun yang disayangkan, komunikasi tersebut menemui jalan buntu.
Walaupun dirinya memiliki kesibukan kerja di Jakarta, tapi tetap berkomitmen untuk memprioritaskan masalah Keraton Kasepuhan ini. Terkait kedudukan atau tempatnya di keraton, dirinya tidak mempersoalkan.
Yang penting nantinya keraton bisa terbuka untuk semua kerabat dan masyarakat pada umumnya. Karena keraton ini milik rakyat, yang merupakan warisan dari Syekh Syarif Hidayatullah.

















































































































Discussion about this post