KAB. CIREBON, (FC).- Petani Peneliti asal Kabupaten Cirebon, Usman Effendi kembali membuat terobosan. Diantaranya adalah mengawinkan bibit padi varietas baru.
Yaitu varietas Ciherang – varietas Mantap serta varietas 32 – varietas Mantap. Bahkan, bukan hanya itu, Usman dalam mengembangkan hasil penemuannya itu dengan menggunakan pupuk organik yang dalam 1,5 hektare hanya membutuhkan 3 kwintal pupuk.
Kepada wartawan, Usman mengungkapkan, dirinya senang membuat terobosan baru di dunia pertanian, diantaranya perkawinan silang antara benih satu dengan benih lainnya.
Namun pada temuannya kali ini yang lebih ia senangi adalah varietas 32 dan Mantap dibandingkan Ciherang – Mantap alasannya adalah lebih disukai tengkulak, karena hasilnya bagus. Tetapi, di varietas 32 memiliki kelemahan, yaitu bulirnya ada corak putihnya makanya ia kawinkan dengan varietas mantap.
“Kalau varietas Ciherang – Mantap. Ciherang itu biasanya hasilnya kurang maksimal, makanya saya kawinkan dengan Mantap supaya ada kenaikan hasil,” terangnya.
Ia mengaku, perkawinan benih padi yang ia lakukan adalah perkawinan silang alami. Namun metode perkawinannya Usman tidak bisa dikemukakan di publik. “Ini baru pertama uji coba perkawinan silang. Metodenya seperti apa? Nanti ya, belum di hak patenkan,” ucapnya.
Usman mengatakan, untuk membesarkan varietas temuan barunya itu, ia juga menggunakan pupuk organik, tidak menggunakan pupuk kimia. Usman mengaku dari luas 1,5 hektare lahan yang ia tanami itu, hanya menggunakan pupuk organik sebanyak 3 kwintal.
“Kenapa, karena saya punya pemikiran, kasihan sama petani, karena tahun depan subsidi ponska dikurangi. Makanya bagaimana cara agar hasilnya tetap maksimal, tapi biayanya lebih irit,” pungkasnya.
Sementara, Aktivis Tani Cirebon, Dudi Setiawan mengatakan, uji materi sudah dilakukan. Intinya bagaimana mensinergikan agar proses patennya dapat, dari perkawinan silang ini. Kemudian dari pupuknya juga harus dipatenkan. Karena untuk melakukan itu mahal sekali.
“Tolong Pemda, untuk Cirebon saja dulu bagaimana caranya agar bisa diadopsi. Ada sekitar 217 hektar lahan Pemda, bisa didemplotkan dulu beberapa kotak sawahnya untuk uji coba. Nanti yang lain bisa mengikuti,” katanya.
Di tempat yang sama, Sub koordinator pengawas mutu hasil bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Rojaya menyatakan, penemuan Pak Usman ini dampaknya diharapkan membawa perubahan bagi pertanian Kabupaten Cirebon.
Berdasarkan ubinan dari varietas yang dikembangkan Pak Usman, Ciherang yang dikawinkan dengan Mantap tapi dengan metode dia.
Dari hasil ubinan yang ia laksanakan, rata-rata hasil dari dua sampel itu, Ciherang – Mantap adalah 7,5 ton gabah kering pungut. Sedangkan varitas Bali (32) dengan Mantab hasil rata-ratanya 6,9 ton.
“Berdasarkan rata-rata pengakuan dari BPP Plumbon, di kita rata-rata hasil ubinan nya adalah 6 ton. Konsep Pak Usman ini bisa diteladani oleh petani lainnya khususnya di wilayah BPP Plumbon,” ungkap Rojaya.
Yang menariknya lagi, di samping subsidi pupuk dikurangi kemudian pestisida juga semakin mahal, Pak Usman ini bisa menemukan pupuk organik dan pestisida nabati nya sehingga berdampak pada bobotnya.
“Jadi pupuk organik itu salah satunya yang bisa meningkatkan hasil bobot per satuan luasnya. Menarik bisa dikembangkan. Kebutuhan pupuk satu hektar 7 kwintal. Kalau Pak Usman ini 1 hektar cuma 3 kwintal,” terangnya.
Sedangkan, sambungnya, yang dianjurkan pemerintah, untuk 1 hektare lahan pupuk yang digunakan yaitu urea 2,75 kwintal kemudian pestisidanya 2,50 kwintal, atau 5 kwintal sekian.
“Ini artinya Pak Usman bisa dijadikan contoh untuk penggunaan pupuk, karena di bawah rata-rata. Yang namanya benih ada lagi yang kewenangannya, harus bersertifikat, mungkin BPSP yang bisa menentukan bahwa varietas ini bisa dirilis atau tidaknya. Tapi untuk konsumsi pribadi sebagai pembanding sih bisa,” pungkasnya. (Ghofar)


















































































































Discussion about this post