KOTA CIREBON, (FC).- Di balik kelancaran dan keselamatan perjalanan kereta api di Pulau Jawa, terdapat peran penting Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan yang menjadi pusat perawatan mesin-mesin perawatan jalan rel milik PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Setiap hari, aktivitas di Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan dipenuhi suara mesin bubut, pengelasan, pemeriksaan sistem hidraulis, hingga pengujian berbagai komponen.
Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin, menjelaskan bahwa peran Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan sangat strategis dalam menjaga keselamatan perjalanan kereta api melalui perawatan Kereta Perawatan Jalan Rel (KPJR).
“Perjalanan kereta api yang aman memerlukan kondisi rel yang stabil dan sesuai standar teknis. Mesin perawatan jalan rel membantu menjaga kondisi tersebut. Karena itu, setiap mesin perlu dipastikan andal sebelum kembali digunakan,” ujar Muhibbuddin pada Senin (20/7).
Balai Yasa ini menangani berbagai jenis pekerjaan, mulai dari perawatan berkala, perawatan berat, perbaikan, pengujian fungsi, hingga peningkatan kemampuan teknis mesin perawatan jalan rel. Mesin-mesin tersebut memiliki fungsi penting, seperti mengangkat dan meluruskan rel, mengatur ketinggian jalur, memadatkan batu balas, membentuk profil batu balas, hingga menstabilkan jalur setelah proses pemeliharaan.
Muhibbuddin menjelaskan, ketika posisi rel mengalami perubahan akibat beban operasional maupun faktor lingkungan, mesin perawatan digunakan untuk mengembalikan geometri jalur sesuai standar teknis. Geometri tersebut meliputi kelurusan rel, elevasi, jarak antarrel, hingga kemiringan jalur.
Sepanjang tahun 2026, Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan menargetkan perawatan terhadap 51 unit mesin perawatan jalan rel. Hingga 17 Juli 2026, sebanyak 22 unit atau 43,1 persen telah selesai menjalani perawatan, tujuh unit masih dalam proses, sementara 22 unit lainnya telah masuk jadwal perawatan berikutnya.
Beberapa jenis mesin yang dirawat di antaranya Multiple Tie Tamper (MTT) yang berfungsi mengangkat, meluruskan, sekaligus memadatkan jalan rel, serta Plasser Ballast Regulator (PBR) yang digunakan untuk merapikan dan membentuk profil batu balas di sekitar bantalan rel.
“Setiap mesin mempunyai fungsi yang berbeda. Ada mesin yang mengoreksi posisi rel, memadatkan batu balas, menata material di sekitar bantalan, dan membantu pekerjaan pada wesel. Seluruh fungsi tersebut saling mendukung agar jalur tetap aman dilewati kereta api,” jelas Muhibbuddin.
Dari sisi kinerja, Balai Yasa mencatat tren positif. Pada 2024 berhasil menyelesaikan 50 pekerjaan perawatan mesin, meningkat menjadi 53 pekerjaan pada 2025. Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 22 pekerjaan telah rampung, sehingga total terdapat 125 penyelesaian pekerjaan perawatan sejak 2024.
Menariknya, mesin yang dirawat memiliki rentang usia yang sangat beragam, mulai produksi tahun 1984 hingga 2024. Sebanyak 23 unit berasal dari periode 1984–1994, delapan unit dari 2013–2015, dan 20 unit merupakan mesin generasi terbaru produksi 2020–2024.
“Keandalan mesin sangat bergantung pada ketelitian dan kompetensi pekerja. Setiap tahapan harus dilakukan sesuai prosedur, mulai dari pemeriksaan awal, perbaikan komponen, pemasangan, hingga pengujian sebelum mesin dinyatakan siap digunakan,” kata Muhibbuddin.
Hingga April 2026, Balai Yasa Mekanik Cirebon Prujakan mencatat capaian membanggakan berupa nol kecelakaan kerja, nol pencemaran lingkungan, dan nol keterlambatan proses perawatan.
“Keselamatan perjalanan dibangun dari banyak pekerjaan yang berlangsung di belakang layar. Kesiapan rel di lapangan, keandalan mesin perawatan, kompetensi pekerja, serta disiplin dalam setiap proses menjadi bagian yang saling terhubung untuk menjaga perjalanan kereta api di seluruh Jawa,” tutup Muhibbuddin. (Agus)









































































































Discussion about this post