KOTA CIREBON, (FC).- Ternyata Kota Cirebon mengalami inflasi cukup tinggi.
Lonjakan tarif listrik hingga harga kebutuhan pokok seperti daging ayam dan beras membuat inflasi di daerah ini menembus angka 3,54 persen pada Maret 2026.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat, inflasi tahunan (year on year/yoy) tersebut dipicu oleh kenaikan harga di berbagai sektor, terutama energi dan pangan.
Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran mengungkapkan, tarif listrik menjadi faktor paling dominan dalam mendorong inflasi.
“Tarif listrik menjadi komoditas yang paling dominan dalam mendorong inflasi tahunan, dengan sumbangan mencapai 1,17 persen,” ujar Samiran kepada wartawan, Rabu (8/4).
Selain listrik, sejumlah komoditas pangan juga ikut menyumbang kenaikan inflasi. Di antaranya daging ayam ras, beras, jeruk, hingga telur ayam ras.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yakni tarif listrik, daging ayam ras, beras, jeruk, akademi atau perguruan tinggi, telur ayam ras dan lainnya,” ucapnya.
Samiran menjelaskan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Cirebon pada Maret 2026 mencapai 109,38, meningkat dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebesar 105,64.
“IHK di Kota Cirebon mencapai 109,38 pada Maret 2026, atau mengalami kenaikan dibandingkan Maret 2025 yang tercatat 105,64,” jelas dia.
Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/mtm) tercatat sebesar 0,68 persen, dengan inflasi kumulatif sejak awal tahun (year to date/ytd) mencapai 1,03 persen.
Kenaikan inflasi terjadi hampir di seluruh kelompok pengeluaran yang menjadi kebutuhan rumah tangga.
Inflasi tahunan ini terjadi karena adanya kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga memberikan kontribusi signifikan, dengan inflasi sebesar 4,37 persen dan andil 1,43 persen terhadap inflasi umum.
Lebih rinci, beberapa komoditas pangan penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras sebesar 0,34 persen, beras 0,29 persen, jeruk 0,13 persen, telur ayam ras 0,12 persen, kangkung 0,09 persen, serta daging sapi 0,06 persen.
Meski demikian, BPS juga mencatat adanya sejumlah komoditas yang mengalami deflasi, seperti bawang merah, cabai merah, bawang putih, wortel hingga buku pelajaran SMA.
“Data inflasi ini dapat menjadi acuan komprehensif bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan, terutama untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo memastikan, pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah untuk menekan laju inflasi, terutama menjelang Lebaran 2026.
“Kami telah menggencarkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga stok bahan pokok agar tidak terjadi kelangkaan yang memicu inflasi,” ucap Edo.
Selain itu, Pemkot Cirebon juga menggelar Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) pada 13 Maret 2026.
“Sebanyak 1.208 paket bahan pokok telah disalurkan dengan subsidi sebesar Rp56.700 per paket,” jelas dia.
Ia menegaskan, program tersebut tidak hanya bertujuan menekan inflasi, tetapi juga membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Selain menekan angka inflasi, yang terpenting program tersebut membantu masyarakat,” katanya. (Agus)











































































































Discussion about this post