Oleh: Endang Kurnia
DirekturMadani Private Learning Indramayu
Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dimulai pada 2016 merupakan upaya untuk menumbuhkembangkan dan membudayaka literasi. Pembelajaran yang berpusat pada guru dan hafalan pengetahuan untuk persiapan ujian telah lama berlangsung. Saatnya literasi menjadi bagian integral dalam pembelajaran untuk membangun daya pikir dan karakter anak-anak bangsa. Berikut sebuah gambaran sederhana.
Para siswa yang baru saja belajar desain grafis melalui platform Canva menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang baru saja mereka peroleh itu untuk membuat poster, pamflet, kemasan produk, dan sebagainya. Kegiatan pembelajaran ini berpusat pada siswa dan prosesnya memerdekakan. Siswa merdeka untuk aktif berpikir, mencoba, berkarya, berperan, dan merasakan dekatnya pembelajaran dengan kehidupan.
Perpustakaan Nasional menyambutnya dengan memiliki Duta Baca Indonesia yang bertugas mengampanyekan kegemaran membaca dan budaya ke perpustakaan. Kampanye ini diperlukan agar generasi muda merasakan dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan. Melalui membaca, mereka memperoleh dan mencipta makna, mengonstruksi identitas dambaan, serta menjadi individu yang merdeka. Ketika kekuatan membaca telah dirasakan oleh generasi muda, yang mereka butuhkan selanjutnya adalah panutan dalam berliterasi.
Oleh karenanya, laku literasinya perlu diperbincangkan di masyarakat, komunitas, sekolah, dan keluarga serta dijadikan panutan. Salah satu tokoh bangsa yang memiliki atribut tersebut adalah Raden Ajeng Kartini. Selama ini masyarakat mengenalnya sebagai Pahlawan Nasional, pejuang kesetaraan gender dari Jawa.
Dilihat dari perspektif global meaning making, Kartini juga seorang pencipta makna global lintas kultural, yaitu seorang pembelajar sepanjang hayat yang dekat dengan kebudayaannya, aktif dalam berdialog dan mengonstruksi makna bersama sesama pembelajar di tingkat global dan lintas kultural, kritis dalam melihat isu-isu sosial, serta berpartisipasi dalam pemecahannya.
Menghormati Budaya
Pertama, Kartini adalah perempuan Jawa yang menghormati budaya. Dalam salah satu suratnya, Kartini menyatakan kekhawatirannya tentang keberlangsungan seni ukir Jepara jika suatu saat ia pergi. Ia juga peduli pada gamelan, wayang, batik, dan karya sastra Jawa.
Tetapi kecintaan pada budayanya bukan sebuah cinta buta. Ia mengkritisi para aristokrat Jawa, terutama mereka yang gila hormat. Kedua, Kartini mempelajari bahasa asing, yaitu bahasa Belanda. Prosesnya tidak mudah. Ia menghadapi keengganan orang Belanda untuk berbicara dengannya dalam bahasa mereka.
Meski demikian, Kartini tetap gigih karena ia tahu bahwa, untuk generasinya, bahasa Belanda adalah jalan menuju pendidikan, pengetahuan, pencerahan, konstruksi identitas, dan alat aktivisme. Ketiga, Kartini hobi membaca. Ia menganggap membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan dan menempatkannya sebagai bagian penting dari pendidikan.
Melalui membaca, Kartini memperoleh dan mengonstruksi makna, terutama dengan banyak bertanya pada dirinya sendiri dan sahabat-sahabat penanya. Keempat, Kartini menulis dan menggunakan teknologi pada masanya (pos) untuk berkorespondensi dengan para sahabat penanya. Di salah satu suratnya, Kartini bercerita bahwa keluarganya memiliki budaya berkorespondensi.
Namun Kartini sendiri paham betul bahwa berkorespondensi dapat memperkaya pikiran dan hati serta memperluas cakrawala untuk kedua belah pihak, karena berlangsung kolaborasi konstruksi makna.
Kelima, melalui tulisan dan kegiatannya, Kartini mendekolonisasi ruang pribadi, sosial, dan budaya dengan membangun timbal balik antara yang lokal dan yang global. Ia menyatakan bahwa penting bagi orang Jawa untuk mempelajari tentang Belanda dan sebaliknya agar tercipta rasa saling percaya dan menghormati.
Keenam, Kartini menginterupsi, menginterogasi, dan menggugat sistem-sistem yang beroperasi pada masanya. Salah satunya paternalisme. Kakak laki-lakinya menempuh pendidikan di Belanda, sementara Kartini harus masuk dalam ruang pingitan. Ia pun bertanya: ”Bagaimana para perempuan dapat mendidik keturunannya jika mereka sendiri belum mendapatkan pendidikan?” Ia mengidamkan semua perempuan menjadi ibu dan guru yang cerdas serta cakap.
Ketujuh, Kartini mengonsep ulang dan berkeinginan mentransformasi bagaimana pendidikan seharusnya berlangsung. Menurutnya, pendidikan harus mengakomodasi multilingualisme, membangun kecintaan siswa pada karya sastra, merayakan guru yang menikmati membaca, memfasilitasi pertukaran ide antarsiswa melalui diskusi dan debat, menghargai pendapat siswa, dan menyelenggarakan pembelajaran dengan kelembutan dan kasih sayang. Kedelapan, Kartini seorang aktivis sekaligus penggerak.
Kartini tak sekadar membaca, berpikir, menulis, dan mengonstruksi makna tentang perempuan, pendidikan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Ia juga bertindak. Kartini membangkitkan dan melambungkan seni ukir Jepara serta mendirikan sekolah di Jepara dan Rembang.
Kesembilan, tak hanya berjuang untuk mengonstruksi identitas dirinya sebagai perempuan yang merdeka, terdidik, sekaligus pendidik, Kartini juga memperjuangkan dan mengonstruksi identitas yang sama untuk perempuan pada masanya dan generasi penerusnya.
Dengan kata lain, ia mengonstruksi identitas kolektif atau collective becoming. Secara keseluruhan, praktik-praktik literasi Kartini menunjukkan penghormatannya pada kemanusiaan. Tak kita pungkiri latar belakang Kartini sebagai seorang ningrat. Ia memiliki modal sosial dan kultural yang kuat. Ia dapat berinteraksi dengan kaum pribumi yang mengenyam pendidikan di Belanda dan dengan orang-orang Belanda terdidik. Ia juga memiliki akses untuk membaca buku dan jurnal dari negara itu.
Modal-modal tersebut membentuk habitus Kartini yang kemudian tercermin dalam praktik-praktik literasinya. Ia seorang ningrat yang memilih untuk mengikuti nurani. Kartini menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari praktikpraktik literasinya untuk memenuhi panggilan kemanusiaan. Ia mengupayakan kemuliaan sesamanya melalui berbagai jalan, terutama pendidikan. Ia mengidamkan dan memperjuangkan pendidikan yang memerdekakan para pembelajar. Pendidikan yang melejitkan literasi untuk kemanusiaan. Kartini berliterasi tinggi. Kartini adalah panutan literasi Indonesia.***












































































































Discussion about this post