KAB. CIREBON, (FC).- Angan-angan petani yang ingin menjadikan tanaman sorgum menjadi tanaman alternatif yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, harapannya tidak ada bedanya dengan tanaman lain yang bisa merugi saat panen dilakukan.
Hal tersebut disebabkan karena kurang baiknya manajemen perusahaan penerima hasil panen sorgum serta munculnya biaya tak terduga saat pelaksanaan panen.
Salah seorang petani sorgum Desa Tambelang, Kecamatan Karangsembung, Tatang kepada FC mengungkapkan, di awal dirinya tertarik menanam sorgum karena proses tanam yang mudah, biaya perawatan murah dan hasil yang menjanjikan.
Seperti dari satu hektare lahan yang ditanam sorgum dalam awal tahun akan mendapat keuntungan minimal Rp50 juta, namun kenyataan hasil yang didapat ketika panen jauh dari gambaran awal saat tanam.
“Kenyataannya bobot hasil panen jauh dari gambaran, karena proses panen terlambat dan ada biaya tak terduga yakni biaya potong dan angkut yang harus ditanggung pemilik lahan,” terangnya, Selasa (12/4).
Dijelaskan Tatang, dari 3 hektare lahan yang dirinya tanam, total keseluruhan yang didapat sebanyak 42 ton, padahal digambarkan di awal per hektare bisa panen minimal 75 ton per hektare, penyebab jauhnya hasil panen dari perhitungan awal, pertama karena memang jarak tanaman yang kurang rapat, kedua karena tertundanya masa tanam.
Masih dikatakan Tatang, tanaman sorgum yang seharusnya dipanen saat usia 2 bulan, namun dengan alasan pabrik belum siap menerima, akhirnya panen baru bisa dilakukan secara bertahap di usia tanaman 3 sampai 4 bulan, kondisi tersebut membuat tanaman yang awalnya segar namun karena terlambat panen atau tebang membuat daun tanaman menguning sehingga tidak bisa diterima pabrik.
“Kalau usai 2 bulan sudah dipanen masih segar dan tanaman juga masih punya bobot yang lumayan, tetapi karena panen menunggu kesiapan pabrik sehingga panen tertunda, bahkan banyak tanaman hasil panen yang justru ditolak pabrik dengan alasan tidak layak karena daunnya sudah menguning,” keluhnya.
Selain itu juga, lanjut Tatang, biaya tebang yang awalnya menjadi tanggungan pabrik, justru dikembalikan kepada petani, sehingga dirinya harus meminjam dana untuk membayar tukang tebang angkut hasil panen sorgum, biaya tebang angkut per kwintal berkisar antara Rp8-10 ribu.
Sehingga menjadi beban petani yang harus dihitung sebagai biaya modal yang tak terduga, seperti panen tanaman sorgum miliknya yang total keseluruhan sekitar 42 ton, dirinya harus menyiapkan dana sekitar Rp4 juta untuk biaya upah tenaga tebang angkut.
“Tidak dibicarakan, kalau biaya tebang angkut dibebankan kepada kita, sehingga terpaksa kita mencari dana talangan,” ungkap Tatang.
Lanjut dijelaskan Tatang, dari 3 hektare lahan miliknya yang ditanam sorgum, menghasilkan 42 ton dan dihargai Rp14.700.000, sementara biaya modal yang dikeluarkan dari sewa lahan, bibit, biaya tanam, biaya pemeliharaan sama biaya tebang angkut sekitar Rp34 juta, sehingga panen perdana sorgum miliknya belum bisa menuai keuntungan, justru yang ada kerugian yang dialami.
“Untuk saat ini kami belum mendapatkan untung, mudah-mudahan panen berikutnya bisa menutup kerugian yang dialami,” harapnya. (Nawawi)










































































































Discussion about this post