KUNINGAN, (FC).- Upaya pelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus digencarkan Paguyuban Silihwangi Maja Kuning.
Dalam dua tahun terakhir, paguyuban yang membawahi 28 Kelompok Tani Hutan (KTH) itu menanam hampir 100 ribu pohon di 28 wilayah penyangga kaki Gunung Ciremai, meliputi Kabupaten Kuningan dan Majalengka.
Ketua Paguyuban Silihwangi Maja Kuning, Nandar, menegaskan kegiatan konservasi dilakukan berbasis kemitraan resmi dan mengacu pada regulasi pemerintah.
Program tersebut tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga perlindungan kawasan dan pemberdayaan ekonomi warga desa penyangga.
“Seluruh kegiatan berjalan sesuai aturan, mulai dari peraturan menteri hingga peraturan direktur jenderal. Alhamdulillah, ikhtiar ini ikut mendorong terbitnya SK Zona Tradisional TNGC Nomor 193 Tahun 2022,” kata Nandar, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, 28 KTH binaan tersebar di 13 wilayah Kabupaten Kuningan dan 15 wilayah Kabupaten Majalengka.
Hingga 2026, paguyuban masih memproses perjanjian kerja sama kemitraan konservasi dengan pengelola TNGC.
Meski proses administratif berjalan, kegiatan lapangan tetap dilakukan secara berkelanjutan.
Selain rehabilitasi hutan melalui penanaman, anggota KTH juga terlibat aktif dalam pencegahan kebakaran hutan dengan membuat sekat bakar mandiri serta patroli rutin bersama petugas taman nasional.
“Setiap ada temuan di lapangan, kami langsung koordinasi dan laporkan. Respons dari pihak TNGC selama ini cukup cepat,” ujarnya.
Dari hampir 1.000 anggota KTH yang terdata hingga Februari 2025, program ini juga memberi dampak ekonomi melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan tanaman multiguna (MPTS).
Jika dihitung bersama keluarga anggota, manfaatnya disebut menjangkau ribuan warga desa penyangga.
Menurut Nandar, pola kemitraan konservasi menjadi solusi ganda yaitu menjaga kelestarian hutan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, terutama bagi masyarakat yang memiliki hubungan historis dengan kawasan hutan.
Program tersebut kini juga menjadi objek kajian akademik. Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) tengah meneliti dampak ekonomi dari kegiatan konservasi paguyuban.
Kedua pihak telah menandatangani MoU untuk penguatan kelestarian Ciremai dan peningkatan ekonomi warga desa penyangga.
Ke depan, Paguyuban Silihwangi Maja Kuning juga membuka kolaborasi dengan perguruan tinggi lain, termasuk Universitas Kuningan, guna melibatkan mahasiswa dalam program KKN dan pendampingan langsung di lapangan. (Angga)











































































































Discussion about this post