KAB. KUNINGAN, (FC).– Pagi belum sepenuhnya terang ketika Jafar melangkah menyusuri lereng Desa Setianegara Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuninga.
Embun masih menempel di daun-daun muda yang mereka tanam beberapa tahun lalu. Di balik rimbun picung dan dadap yang tumbuh perlahan, ada mata air yang tak pernah berhenti mengalir, sumber kehidupan bagi warga di kaki Gunung Ciremai.
Di situlah Kelompok Tani Hutan (KTH) Sapu Jagat bekerja. Tidak gegap gempita. Tidak pula mencari sorotan. Mereka memilih menjaga.
“Yang kami jaga bukan cuma pohon. Kami jaga mata air,” ujar Jafar, Ketua KTH Sapu Jagat, lirih namun tegas.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar hamparan hijau. Ia adalah penyangga kehidupan. Setelah kebakaran sempat melukai kawasan hutan Desa Setianegara, kelompok ini tidak tinggal diam. Mereka kembali menanam. Menyulam luka hutan dengan bibit-bibit baru. Dari kebun bambu hingga titik-titik rawan, ribuan pohon kembali ditumbuhkan.
Hampir 5.000 pohon sudah berdiri sejak 2019. Angka itu mungkin terlihat sederhana. Tapi di baliknya, ada peluh, ada harapan, ada komitmen yang tak pernah padam.
Di sekitar mata air, mereka memilih menanam picung, binuang, dan dadap, jenis-jenis yang akarnya kuat memeluk tanah dan menjaga debit air. Di wilayah rawan kebakaran, petai dan simpur ditanam karena lebih tahan terhadap api. Semua diperhitungkan. Semua disesuaikan dengan karakter alam.
“Konservasi itu tidak mudah. Kalau masyarakat tidak peduli, hutan tidak akan bisa dijaga,” kata Jafar.
Kearifan lokal menjadi pegangan. Mereka tahu, hutan tak bisa dijaga hanya dengan aturan. Ia harus dijaga dengan rasa memiliki.
Tak hanya menanam, KTH Sapu Jagat juga rutin berpatroli. Menyusuri jalur-jalur rawan, membuat sekat bakar saat kemarau, hingga memantau habitat satwa liar. Bagi Maming, anggota KTH, ancaman terbesar bukan lagi pencurian kayu.
“Yang paling kami waspadai justru kebakaran,” ujarnya.
Patroli dilakukan bersama Taman Nasional Gunung Ciremai dan mitra lainnya. Mereka membaca tanda-tanda alam, memetakan titik rawan, dan memastikan mata air tetap aman. Sebab jika mata air mati, kehidupan warga pun terancam.
Ada satu strategi yang juga mereka jalankan: menanam tanaman buah MPTS sebagai pakan satwa. Harapannya, satwa tidak lagi turun ke kebun warga. Konflik bisa ditekan, keseimbangan alam terjaga.
Menariknya, konservasi ini tidak memutus hubungan ekonomi warga dengan hutan. Di zona tradisional TNGC, anggota KTH tetap bisa menanam kopi, menyadap pinus, dan mengelola MPTS. Hutan dijaga, ekonomi keluarga pun bergerak.
“Manfaatnya sangat terasa bagi keluarga kami,” kata Maming.
Di lereng Ciremai, KTH Sapu Jagat membuktikan satu hal: pelestarian tidak harus bertentangan dengan kesejahteraan. Keduanya bisa berjalan beriringan.
Di balik rimbun pohon yang kembali tumbuh, ada tangan-tangan warga yang bekerja dalam diam. Mereka mungkin tak sering disebut.
Tapi setiap tetes air yang mengalir ke rumah-rumah warga, setiap kebun yang tetap subur, adalah hasil dari langkah-langkah kecil yang mereka jaga setiap hari.
Karena bagi KTH Sapu Jagat, menjaga hutan bukan sekadar tugas.Ini adalah cara merawat masa depan. (Angga)











































































































Discussion about this post