KAB. CIREBON, (FC).- Desa Gembonganmekar, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon merupakan salah satu desa terbesar penyumbang tenaga migran, hal itu tak hanya memberikan dampak positif untuk kemajuan desa, namun ada permasalahan lain yang menjadi dampak, di antaranya banyaknya anak yatim piatu dari orang tua yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Atas kondisi tersebut, Pemdes Gembonganmekar menjadikan acara rutin 10 Muharam untuk menggelar kegiatan santunan anak-anak yatim piatu dari anak-anak PMI asal Desa Gembonganmekar, Sabtu (5/7/2025) malam.
Kuwu Gembonganmekar, Kamaludin menyampaikan, menjadi PMI bukan berarti sepulangnya dari luar negeri kehidupannya akan sejahtera, meski ada juga yang mereka meningkat kesejahteraannya, hal yang menjadi permasalahan adalah ketika mereka menjadi PMI kemudian di luar negeri meninggal atau sepulangnya dari luar negeri meninggal, maka pihaknya merasa bahwa anak-anak mereka juga harus tumbuh layaknya anak-anak lainnya yang masih memiliki bapak dan ibu kandung.
“Ada sebanyak 72 anak yatim piatu dari purna PMI dan juga PMI yang masih aktif, kita membatasi usia mereka sampai 15 tahun, makanya tahun lalu ada 82 anak sekarang hanya ada 72 anak,” kata Kamaludin di sela acara santunan.
Acara santunan yang berlangsung di balai desa itu bukan hanya diisi dengan pemberian bantuan, tetapi juga rangkaian doa bersama yang kemudian diusapkan ke kepala para anak yatim sebagai simbol harapan dan perlindungan.
Yang lebih membanggakan, Kamaludin menyebut, kegiatan santunan ini murni hasil swadaya dari pemerintah desa dan masyarakat, bukan berasal dari dana desa atau anggaran pemerintah lainnya.
“Santunan ini hasil dari swadaya, bukan dari anggaran desa. Hal ini untuk menarik masyarakat untuk memberikan perhatian kepada anak yatim,” jelas Kamal.
Menurut Kamaludin, jumlah penduduk di Desa Gembongan Mekar saat ini mencapai sekitar 1.700 jiwa, dan sekitar 400 orang di antaranya tercatat sebagai PMI aktif yang tersebar di berbagai negara, seperti Malaysia, Taiwan, Hongkong, hingga Arab Saudi. Kondisi ini membuat Desa Gembonganmekar mendapat julukan desa PMI karena begitu banyak warganya yang bekerja di luar negeri.
“Banyaknya anak yatim PMI di Desa Gembonganmekar karena mayoritas warganya bekerja di luar negeri, sehingga dikenal dengan desa PMI,” tuturnya.
Kamaludin berharap, melalui kegiatan santunan di momen 10 Muharram ini, semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan perhatian terhadap anak-anak yatim bisa terus tumbuh di tengah masyarakat. Apalagi, sebagian besar anak yatim di desanya adalah anak-anak dari keluarga PMI yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian desa.
Tak hanya berhenti di momen Muharram, Kamaludin juga mendorong warganya untuk terus menjaga tradisi berbagi dan peduli terhadap sesama, terutama kepada anak-anak yatim yang membutuhkan perhatian lebih.
“Kami ingin budaya gotong royong dan kepedulian ini terus hidup, jangan hanya saat Muharram saja. Anak-anak yatim adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.
Acara santunan ini pun disambut antusias oleh warga dan para anak yatim. Mereka berharap kegiatan serupa bisa terus dilaksanakan, tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai wujud nyata kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat Desa Gembonganmekar yang lekat dengan kisah perjuangan para pekerja migran. (Nawawi)















































































































Discussion about this post