KAB. CIREBON, (FC).- Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon menyebut, masih banyak pabrik maupun perusahaan di wilayahnya yang masih belum memenuhi standar proteksi kebakaran.
Di antaranya, pabrik busa yang ada di Desa Kebonturi, Kecamatan Arjawinagun yang kemarin terbakar. “APAR dari yang kecil dan besar ada, bahkan lebih dari 10 titik, namun api tetalu besar. Di sana kebanyakan bahan yang mudah terbakar, busa kasur dan bahan baku cairan kimia. Pabrik busa itu tidak mempunyai hydran,” kata Kepala Disdamkarmat Kabupaten Cirebon, Mohamad Ferry Afrudin, Rabu (1/3).
Menurutnya, sosialisasi antisipasi kebakaran di pabrik-pabrik pihaknya rutin lakukan. Bahkan sampai tingkat pengawasan dan pemeriksaan rutin dilakukan oleh anggota sesuai jadwal. “Pengawasan dan pemeriksaan dilakukan secara berkala setahun sekali untuk menjamin kelayakan fuangsi alat. Itu utnuk bangunan gedung dan kalangan dunia usaha,” kata Ferry.
Diakuinya, pabrik atau perusahaan yang ada di wilayahnya rata-rata sudah memiliki APAR, namun yang memiliki alat proteksi kebakaran hydran di wilayah tengah Kabupaten Cirebon hanya sebagian, barat juga. Tetapi wilayah industri di Cirebon bagian timur rata-rata sudah memiliki hydran. “Di pabrik Cirebon bagian timur rata-rata punya hydran. Untuk tengah minim hydran, itu banyaknya pabrik rotan, itu juga baru 50 persen yang punya hydran,” katanya.
“Kami menyarankan kalau tidak punya hydran minimal mengunakan pompa, kebanyakan pabrik rotan pake pompa air,” imbuhnya.
Mantan Kadinkop UKM Kabupaten Cirebon ini mewajibkan setiap perusahaan atau pabrik-pabrik mempunyai alat pemadam kebakaran proteksi. Pasalnya standar aturannya sudah ada. “Nah kalau secara proteksi, pabrik busa tidak memenuhi standar. Karena baru hanya APAR, harusnya mempunyai alat khusus,” paparnya.
Diberitakan sebelumnya, kebakaran dahsyat melanda PT AIYI Internasional di Desa Kebonturi, Kecamatan Arjawinagun, Kabupaten Cirebon pada Senin (27/2) malam sekira pukul 20.00 WIB. Hingga Selasa (28/2) siang kobaran api yang melanda PT AIYI Internasional yang merupakan pabrik busa belum juga dapat dipadamkan.
Kebakaran pabrik busa sendiri diketahui pertama kali oleh para pekerja yang sedang bekerja shift dua, mereka melihat langsung awal kebakaran berasal dari percikan api di area produksi pembuatan busa. Kemudian para pekerja berhamburan keluar area pabrik dan melaporkan kejadian kebakaran ke pihak keamanan pabrik yang sedang berjaga.
Kebakaran diduga akibat korsleting atau arus pendek listrik yang membuat percikan api melalap pabrik busa. Akibat kejadian tesebut puluhan mobil Pemadam Kebakaran dari Dinas Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Cirebon dikerahkan untuk memadamkan kobaran api. Bahkan kebakaran hebat tersebut mengakibatkan ledakan yang cukup keras hingga memutus kabel sistem saluran udara tegangan eksrta tinggi (Sutet) yang tepat di atas lokasi.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Cirebon, Muhammad Ferry Afrudin melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Penangulangan Kebakaran, Engku Nursyamsu mengatakan, pihaknya telah menerjunkan 18 kendaraan untuk memadamkan api yang membakar pabrik busa. Menurutnya, banyak kendala yang dilalui petugas dilapangan. Pasalnya lokasi kebakaran sendiri merupakan pabrik busa yang mudah terbakar serta bahan kimia.
“Petugas kami dari semalam hingga siang melakukan pemadaman, untuk area yang terbakar seluruh gudang ada di dalam pabrik dan banyaknya bahan yang mudah terbakar antar lain zat cair pembuatan busa, kertas, plastik dan busa sehingga untuk memadamkannya cukup waktu lama,” kata Engku.
Soal kerugian, kata Engku, pihaknya kini sedang melakukan pendataan kerugian akibat kebakaran di pabrik busa tersebut. “Kami masih menghitung kerugian, kemungkinan diperkiraan miliaran rupiah, mengingat semua area pabrik hangus terbakar, sedangkan untuk korban jiwa nihil,” ungkapnya.
Disinggung soal proteksi kebakaran di pabrik, Engku mengatakan, diduga di perusahaan tersebut kurang adanya alat pemadam api ringan (APAR), sehingga ketika adanya api tidak bisa langsung padam. “Diduga kurang APAR di dalam pabrik,” katanya. (Ghofar)











































































































Discussion about this post