KAB. CIREBON, (FC).- Bupati Cirebon, H Imron mengaku prihatin atas kasus perundungan yang menimpa pelajar difabel di wilayah Kecamatan Susukan. Imron menegarai, kasus itu terjadi karena para pelaku terbawa arus pergaulan yang kebablasan dan tanpa kontrol dari orangtua mereka.
Karena dari sisi pendidikan sendiri, Imron menilai sudah baik, karena tentunya pihak sekolah tidak mengajarkan hal-hal yang merugikan bahkan menyakiti orang lain.
“Kalau dari sisi pendidikan sudah baik, cuma itu dampak pergaulan yang tanpa kontrol dari orangtua mereka,” ujar Imron, kemarin.
Menurut Imron, ada tiga faktor yang mendominasi perubahan karakter seseorang saat di usia muda, yakni keluarga, pendidikan dan pergaulan.
Dari tiga faktor tersebut, kata Imron, pengaruh pergaulan paling dominan mempengaruhi perubahan si anak karena pengaruhnya sangat kuat.
Sehingga, para orangtua harus benar-benar mengawasi pergaulan anak-anaknya.
Karenanya, lanjut Imron, ketiga faktor tersebut harus dipastikan semuanya baik-baik saja. “Sekolahnya baik, tapi di keluarga tidak baik, maka anak tidak akan baik. Di sekolah baik, di keluarga baik tapi kalau pergaulannya salah, anak tidak akan baik, anak bisa menimbulkan masalah. Makanya pendidikan ini bukan saja di sekolah, tapi juga di rumah,” paparnya.
Imron menilai, aksi yang dilakukan para pelajar terhadap difabel tersebut karena ingin gaya-gayaan di lingkungan pergaulan mereka dengan membagikannya melalui status WhatsApp atau medsos. Sayangnya, para pelaku tidak memahami bahwa tindakan tersebut masuk ranah pidana.
“Ingin gaya tapi tidak tahu itu pidana. Karena itu saya mengimbau kepada anak-muda dan para pelajar, gunakan HP atau medsos dengan baik,” ucapnya.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dedi Supandi mendatangi langsung ke kediaman korban bulying di wilayah Kecamatan Susukan, Jumat (23/9). Dedi Supandi mengatakan, kedatangan dirinya di rumah korban tersebut untuk memastikan kondisi psikologinya baik-baik saja pasca mengalami perundungan. Selain itu, Kadisdik juga memberikan sepeda listrik seperti yang diminta korban.
“Saya datang kesini untuk melihat dan memastikan perkembangan Z pasca mendapatkan perundungan. Alhamdulillah kondisinya semakin membaik. Kami berikan sepeda listrik, dia kan minta sepeda listrik,” kata Dedi.
Menurut Dedi, membaiknya kondisi Z diperkuat dengan laporan psikolog termasuk pendampingan dari tim PPPA dan asesment tim cabang dinas. Langkah pendampingan kepada Z, kata dia, sangat penting dan harus terus dilakukan supaya psikologi korban bisa stabil kembali. Terlebih korban merupakan seorang difabel.
“Pemprov Jabar memberikan perhatian khusus kepada anak difabel, apalagi ini korban perundungan. Dan sejauh ini pendampingan sudah dilakukan optimal,” terangnya.
Selain mendatangi rumah korban, Kadisdik Jabar juga langsung melakukan pertemuan dengan seluruh Kepala Sekolah SMK se-Kabupaten Cirebon guna membahas pembentukan sekolah ramah anak. Pasalnya, dari data yang dimiliki, untuk SMK se-Jawa Barat baru ada 28,23 persen sekolah ramah anak. Hal itu wajib dilakukan sebagai langkah antisipasi semua persoalan yang mungkin timbul.
“Sekolah anak ini kan nantinya mencakup keseluruhan termasuk keindahan, kebersihan, keamanan dan inklusif. Pokoknya saya wajibkan seluruh sekolah SMK, SMA dan SLB di Jawa Barat harus ramah anak,” tandasnya.
Sebelumnya, Polresta Cirebon berhasil mengamankan 3 dari 4 pelaku perundungan terhadap anak difabel Kabupaten Cirebon berinisial Z.
Korban sendiri adalah warga Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon, Saat itu, korban mendapat perundungan dari pelaku di sebuah gubuk di persawahan. Korban beberapa kali ditendang dan diinjak oleh pelaku.
Ironisnya, perundungan tersebut direkam dengan durasi sekitar 0:19 menit, dan disebar luas di media sosial. Namun tidak lama berselang, Satreskrim Polresta Cirebon berhasil mengamankan 3 orang pelaku.
Kasat Reskrim Polresta Cirebon, Kompol Anton mengatakan, para pelaku yang diamankan masih berusia antara 15 sampai 16 tahun. (Ghofar)


















































































































Discussion about this post