MAJALENGKA, (FC).- Di balik pandemi COVID 19 yang masih menghantui Indonesia, sejumlah aktivitas kreatif tumbuh di kalangan masyarakat. Hal itu seperti yang terlihat di Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka. Berbekal limbah dari industri pengolah kain, pemuda desa di bawah Karang Taruna ini berinisiatif untuk memanfaatkannya jadi barang yang bernilai ekonomis.
Sejak beberapa pekan lalu mereka sukses menyulap limbah itu jadi Keset dengan kualitas yang layak dipasarkan.
Ketua Karang Taruna Tunas Bangsa Saefullah mengatakan, dirinya sengaja memanfaatkan limbah kain itu untuk keset guna memberi kesempatan kepada warga sekitar dalam mencurhakan keterampilannya.
“Itung-itung kursus, tapi nggak berbayar. Karena kebetulan ada orang yang udah bisa bikin Keset. Saat ini fokusnya masih bikin Keset dulu. Kedepan tidak menutup kemungkinan produk lain,” kata dia saat berbincang dengan FC, Kamis (24/9).
Tidak hanya sebagai sarana mengasah keterampilan saja, Saefullah juga memastikan ketika ada yang sungguh-sugguh, ada imbalan materi. Nanun sayang, sampai saat ini belum ada warga yang terlihat menaruh perhatian untuk menjadikan aktivitas itu sebagai jalan mendapat keuntungan materi.
“Mungkin karena masih baru ya. Barangkali ke depannya, akan ada yang minat, kami siap. Untuk saat ini yang produksi ya baru keluarga aja dulu,” jelas dia.
Apa yang dilakukan dengan keputusannya mengolah limbah kain jadi Keset memang diharapkan bisa mendatangkan keuntungan materi. Namun, bukan berarti materi menjadi tujuan utamanya.
“Pekan pertama kami bikin untuk dibagi ke Musala-musala. Alhamdulillah sekarang ada salah satu Kepala Dinas yang memesan, jumlahnya lumayan lah. Katanya untuk di kantornya,” ungkap dia.
Sebagai ‘industri rumahan,’ cara kerja yang dilakukan masih mengandalkan tenaga manusia sepenuhnya. Namun, dari sisi kualitas, Keset berbahan baku limbah itu bisa digunakan cukup tahan lama. Dari fisik Keset pun, cenderung lebih tebal dibanding Keset berbahan kain yang dijual di pasaran.
“Nggak mudah ambrol, begitu juga saat dicuci di mesin. Lebih tebel dari yang ada di pasaran sih. Malah kalau buat Sajadah juga enak. Apalagi untuk orang tua yang sudah ngeluh sakit kaki. Karena ini kan tebal,” papar dia.
Melihat peluang yang ada, Saefullah menyilakan jika ada warga yang minat untuk ikut bersama-sama dalam ‘industri rumahan’ itu. Apalagi saat ini, sudah mulai muncul pesanan dari sejumlah kalangan.
“Sok mangga (silakan), kita bareng-bareng. Nggak harus dari desa sini aja,” jelas dia.
Sementara, untuk menghasilkan satu Keset, jika dilakukan dengan ulet, bisa diselesaikan dengan durasi sekitar 2 jam. Waktu yang diperlukan itu tanpa dengan bantuan mesin apapun. (Munadi)















































































































Discussion about this post