KAB.CIREBON, (FC).- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon terus mengintensifkan penanganan sampah liar yang masih ditemukan di sejumlah ruas jalan, Kamis (18/6).
Petugas melakukan pembersihan tumpukan sampah di sepanjang jalur By Pass mulai dari Kecamatan Kedawung hingga Kecamatan Tengah Tani.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menekan keberadaan tempat pembuangan sampah (TPS) liar.
“Pada kegiatan hari ini kami melakukan pembersihan sampah liar di sepanjang By Pass Kedawung hingga Tengah Tani. Dari lokasi-lokasi tersebut, sedikitnya tiga truk sampah berhasil kami angkut,” ujarnya.
DLH juga telah menjadwalkan pembersihan lanjutan di sejumlah titik lain yang masih menjadi lokasi pembuangan sampah sembarangan oleh masyarakat.
“Besok rencananya kami akan membersihkan sampah liar di kawasan depan Ramayana Weru,” katanya.
Menurut Dede, jumlah TPS liar di Kabupaten Cirebon masih cukup banyak, meskipun tidak tersebar merata di seluruh desa. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat lebih dari 40 titik TPS liar yang tersebar di berbagai wilayah.
“Kalau sampai ratusan titik tidak. Kurang lebih ada sekitar 40 lebih TPS liar di Kabupaten Cirebon. Tidak semua desa memiliki persoalan yang sama, karena ada juga desa yang cukup bersih dan tidak ditemukan sampah liar,” jelasnya.
Dede mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pengelolaan sampah dari sumbernya, yakni di lingkungan rumah tangga. Langkah paling sederhana yang dapat dilakukan adalah memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang.
“Yang paling mudah dan sederhana adalah memilah sampah. Minimal dipisahkan menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan nonorganik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sampah organik dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos melalui metode sederhana seperti biopori atau pengolahan mandiri menggunakan wadah kecil di rumah.
“Biopori bukan hanya bermanfaat untuk mengurangi genangan air dan membantu penyerapan saat hujan, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik. Sampah tersebut nantinya akan terfermentasi menjadi kompos yang dapat digunakan untuk tanaman sendiri,” katanya.
Dengan pengelolaan sampah organik secara mandiri, volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat berkurang secara signifikan. Menurut Dede, hal itu menjadi salah satu solusi penting dalam mengatasi persoalan sampah yang terus meningkat setiap tahun.
“Kalau sampah organiknya sudah dimanfaatkan, maka yang dibuang ke TPA hanya sampah anorganik. Artinya volume sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang,” jelasnya.
DLH berharap penanganan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
“Dengan kolaborasi semua pihak, kami optimistis persoalan sampah di Kabupaten Cirebon dapat diatasi secara bertahap,” pungkasnya. (Ghofar)













































































































Discussion about this post