KOTA CIREBON,(FC). – Dinas Kesehatan Kota Cirebon kampanyekan gerakan Serentak Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis (TOSS TB).
Gerakan uni duluan dengan sosialisasi dan diskusi tanya jawab seputar TB dan bagaimana cara pencegahannya yang dihadiri oleh seluruh kader di 22 Kelurahan di Kota Cirebon, tenaga medis, kepala puskesmas, dan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, terungkap bahwa dalam penyakit Tuberkulosis Indonesia sebagai negara tertinggi kedua di dunia.
Sementara, Jawa Barat merupakan provinsi tertinggi angka pengidap TB di Indonesia.
“Adalah sangat penting untuk mengetahui berapa jumlah pengidap TB di tiap wilayah termasuk di Kota Cirebon agar kita bisa memetakan sejauh mana langkah dan keputusan yang diambil dalam pencegahan TB,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawati, Jumat (9/6).
Ia melanjutkan, menurut catatan WHO tahun 2022 kasus TB di Indonesia mencapai 10 juta orang dari angka itu kematiannya sekitar 1,4 juta orang. Kebanyakan angka kematian dialami oleh laki-laki.
“Laki-laki lebih tinggi angka kematiannya daripada perempuan,” imbuhnya.
Di Jawa Barat sendiri terdapat lebih dari 128 ribu kasus TB, dari angka itu 783-nya TB dengan HIV dan 1.109 adalah kasus TB yang sudah resisten obat.
“Di Jawa Barat jumlah pengidap TB-nya termasuk tinggi,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama bergerak melakukan TOSS TB untuk mengeliminasi angka penyebarannya, menurunkan resiko penularannya, mencegah angka kematian, dan mengantisipasi orang kebal terhadap obat atau resisten obat.
“Untuk itu sama-sama kita bergerak jangan lagi ada pertambahan kasus, sembuhkan pengidapnya, jangan ada lagi ada yang sudah diobati namun resisten obat. Jangan ada lagi kematian sia-sia akibat TB,” tuturnya.
Ia menambahkan, di tahun 2019 jumlah pengidap TB di Kota Cirebon sebanyak 1.727 kasus, tahun 2020 turun menjadi 1.222 kasus dan tahun 2021 sebanyak 1.909 kasus, sedangkan tahun 2022 naik menjadi sebanyak 2.021 kasus.
“Kondisi seperti ini memerlukan perhatian serius tidak hanya bagi tenaga medis tetapi juga pihak keluarga terdekat dan masyarakat sekitar. Dan beberapa faktor yang dapat meningkatkan angka penyebaran TB diantaranya adalah perlindungan sosial, kepadatan penduduk, polusi udara, kualitas gizi, serta stigma dan diskriminasi,” pungkasnya.(Frans/Job/FC)














































































































Discussion about this post