KUNINGAN, (FC).- Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Komjen Pol (Purn) Akhmad Wiyagus, turun langsung meninjau Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kasturi 2 Kuningan, Jumat (6/2), untuk memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar mutu, higienitas, dan tata kelola yang ditetapkan pemerintah.
Kunjungan tersebut dilakukan bersama Bupati Kuningan, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah selaku Ketua Satgas Percepatan MBG, Kapolres Kuningan, serta jajaran pejabat daerah. Rombongan mengecek proses produksi makanan, sistem kebersihan dapur, kelengkapan peralatan, hingga mekanisme distribusi kepada para penerima manfaat.
Pengelola SPPG Kasturi 2 dari Yayasan Pelita Jiwa Mandiri, Cecep Hendie ST, menyebut kunjungan Wamendagri menjadi dorongan moral bagi tim dapur untuk terus menjaga kualitas layanan gizi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, khususnya Pak Bupati dan Pak Sekda selaku Ketua Satgas percepatan Program MBG, atas kepercayaan yang diberikan. Ini kehormatan bagi kami karena SPPG Kasturi 2 dijadikan lokasi kunjungan kerja Wamendagri,” ujar Cecep.
Dalam peninjauan itu, kata Cecep, Wamendagri menilai secara umum dapur telah memenuhi standar operasional. Namun pengelola diminta tidak berhenti pada capaian awal dan terus meningkatkan kualitas, terutama pada aspek kebersihan, kelengkapan sarana, serta manajemen dapur.
“Pesan beliau jelas, standar sudah baik, tapi harus terus ditingkatkan. Karena ini menyangkut pemenuhan gizi dan masa depan generasi penerus,” katanya.
Wamendagri juga menekankan pentingnya transparansi program kepada publik. Informasi menu harian, kandungan gizi, hingga proses pengolahan didorong untuk dipublikasikan melalui kanal digital agar bisa diakses masyarakat.
“Sekarang ini eranya keterbukaan informasi. Menu, kandungan gizi, sampai proses penyajian perlu disampaikan. Alhamdulillah, itu sudah kami jalankan,” ucap Cecep.
Ia menjelaskan, SPPG Kasturi 2 telah beroperasi sekitar tiga minggu dengan skema pelayanan bertahap demi menjaga mutu. Saat ini jumlah penerima manfaat telah mencapai sekitar 1.900 orang dari kapasitas maksimal 2.400 penerima.
“Bertahap supaya kualitas terkontrol. Minggu pertama 1.000 penerima, minggu kedua 1.500, dan sekarang mendekati 2.000 penerima manfaat,” jelasnya.
Menurut Cecep, indikator keberhasilan MBG bukan hanya pada angka distribusi, tetapi juga tingkat penerimaan makanan oleh siswa dan masyarakat.
“Kami paling senang kalau wadah makanan kembali dalam kondisi kosong. Itu artinya menu diterima dengan baik,” ujarnya.
Untuk memastikan standar tetap terjaga, tim SPPG rutin melakukan monitoring ke sekolah dan titik distribusi guna menyerap masukan soal menu dan pola penyajian. Pengelola memastikan arahan pemerintah pusat dan daerah akan terus dijalankan secara konsisten.
“Arahan sudah jelas, tinggal kami jaga dan tingkatkan, dari kebersihan, peralatan, sampai manajemen dapur. Kami siap,” pungkasnya.(Angga)













































































































Discussion about this post