MAJALENGKA, (FC).- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon mengadakan kegiatan Pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) Pengembangan Komoditas Kopi di Desa Gunung Wangi, Kabupaten Majalengka, Jumat (12/2).
Pelatihan yang diikuti oleh para petani kopi itu dibuka langsung oleh Kepala KPwBI Cirebon, Bakti Artanta.
Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia turut berpartisipasi dalam pengembangan komoditas unggulan di Ciayumajakuning.
Diawali tahun 2018, BI Cirebon mengembangkan komoditas kopi Cibereum, Kabupaten Kuningan.
Berlanjut kemudian di tahun 2020 mengembangkan komoditas kopi Gunung Wangi, Kabupaten Majalengka.
“Tahun ini kami konsen di Majalengka. Lokasi garapan kegiatannya di Desa Gunung Wangi Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka,” jelas Kepala KpwBI Cirebon, Bakti Artanta
Pelatihan GAP sendiri merupakan bentuk kegiatan dasar bagi kelompok tani kopi untuk mengetahui bagaimana budidaya kopi yang baik dan berkualitas.
Dalam pelatihan ini, BI Cirebon menghadirkan pemateri dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember, Jawa Timur.
Selain menghadirkan narasumber dari Puslitkoka, BI juga menggandeng kerjasama pemerintah daerah Kabupaten Majalengka melalui dinas yang membidangi pertanian, kehutanan dan perkebunan, serta bekerjasama pula dengan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Pelatihan GAP dilatarbelakangi minimnya ilmu-ilmu yang dikuasai oleh para petani, khususnya dalam hal pengembangan kualitas kopi di Gunung Wangi yang memang perlu ditingkatkan dari hulu sampai hilir.
“Di hulu ini kita akan perbaiki dari sisi budidayanya. Kemudian dari sisi sarananya juga memang di Gunung Wangi ini masih ada kendala di pengadaan-pengadaan sarana. Kemudian berikutnya masuk ke hilir, kaitannya bagaimana kopi paska panen dikelola dengan baik,” jelasnya.
Untuk pengadaan sarana, Bank Indonesia memberikan support pembangunan rumah produksi yang saat ini sedang berjalan pembangunannya.
Rumah produksi ini diperuntukan untuk memproses kopi yang kemudian akan dipasarkan ke berbagai wilayah.
Guna mendukung pengembangan komoditas kopi dari sisi promosi, BI juga menyiapkan kedai untuk edukasi.
Nantinya kedai ini akan dilengkapi dengan bangunan-bangunan pendukung sektor wisata di Desa Gunung Wangi.
“Jadi ini sangat relevan sekali dalam mendukung sektor wisata. Kawasan ini juga akan terintegrasi dengan kebun kopi yang nantinya pengunjung bisa memanfaatkan untuk belajar mengenal bagaimana proses kopi dilakukan, dari proses budidayanya sampai dengan proses paska panen,” kata Bakti Ananta.
Untuk itu, pihaknya mengajak semua pihak bekerjasama untuk mendukung kegiatan tersebut.
“Karena kami yakin kerjaan ini tidak bisa hanya dituntaskan dalam waktu yang cepat serta dalam dukungan Bank Indonesia semata, sehingga kedepan akan dilakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan semua unsur, baik pemerintah daerah maupun lembaga-lembaga yang dapat mendampingi kegiatan atau kelompok tani nanti,” harapnya.
Dalam pengembangan komoditas Kopi Gunung Wangi, BI Cirebon mengembangkan model bisnis yang berorientasi ekspor serta mendukung sektor pariwisata di Majalengka.
“Ini merupakan salah satu destinasi yang disiapkan manakala mungkin nanti jumlah kunjungan wisatawan di Majalengka semakin bertambah, kami menyikapi sebuah strategi yang mendukung untuk kegiatan ekonomi masyarakat,” pungkas Bakti.
Di masa pandemi Covid-19, kegiatan pelatihan yang digelar BI tersebut tentunya dilaksanakan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.
“Dari kegiatan ini kami harapkan bisa lebih memahami tentang bagaimana memproses kopi dengan baik, kemudian juga bisa meningkatkan nilai tambah (added value), serta kemampuan pengetahuan para petani semakin bertambah pula,” jelas Bakti. (Andriyana)













































































































Discussion about this post