KOTA CIREBON, (FC).- Transportasi adalah sektor yang paling terdampak oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Apalagi orang yang bergantung kehidupannya atau berprofesi sebagai sopir angkutan umum dan diver ojek online (Ojol).
Guna menyuarakan aspirasi terkait beratnya beban yang dipikul para driver ojol, karena dampak kenaikan BBM, mereka menggelar aksi unjuk rasa. Ratusan driver ojol dari berbagai aplikator, pada Rabu (7/9) memenuhi Jalan Siliwangi, tepatnya di depan Balaikota Cirebon. Mereka menggunakan atribut lengkap, sambil membawa spanduk, poster dan pengeras suara.
Driver ojol ini awalnya melakukan long march dari Jalan Tuparev, berhenti di perempatan Jalan Kartini Gunungsari, guna melakukan orasi.
Pihak kepolisian melakukan pengawalan yang ketat, dengan memeriksa tiap peserta unjuk rasa. Driver ojol wajib memperlihatkan aplikasi yang mereka gunakan, agar dalam unjuk rasa tidak ada penyusup.
Dengan membawa poster bertuliskan “Tolak Kenaikan BBM” mereka berhenti tepat di depan Balaikota Cirebon. Dalam aksinya, driver ojol mengajukan sebanyak 11 tuntutan kepada Pemerintah Kota Cirebon.
Dihadapan Walikota Cirebon dan ratusan rekan seprofesinya, Koordinator Keluarga Besar Ojek Online Cirebon Raya (KBOCR) Iswanto mengakui, kenaikan harga BBM bersubsidi sangat berdampak langsung pada pendapatan para driver ojol.
“Makanya kami memiliki hashtag ‘Ojol Menjerit’, hal itu karena kenaikan harga BBM bersubsidi. Oleh sebab itu, kami berharap ada kenaikan persentase bagi kami,” katanya.
Terkait status keberadaan ojek online, Iswanto menjelaskan, pihaknya ingin memiliki payung hukum. “Mudah-mudahan melalui demo ini, harapan kami bisa direalisasikan oleh Pemda Kota Cirebon,” katanya.
Di tempat yang sama, driver ojol wanita bernama Nusmi, menuturkan, dirinya menjadi tulang punggung keluarga, merasa sangat resah dengan keputusan pemerintah.
“Saya ibu dari seorang anak yang sudah tidak memiliki suami, penghasilan saya untuk mencukupi hidup sangat bergantung pada pekerjaan ini. Dengan naiknya harga BBM, pengeluaran saya untuk membeli bensin bertambah. Sedangkan potongan yang dikenakan aplikator 20 persen pada setiap order, semakin memberatkan,” ujarnya.
Sementara, Walikota Cirebon Nashrudin Azis yang langsung menemui para driver ojol mengatakan, ada 11 tuntutan yang disampaikan. Semua poin yang disampaikan merupakan apa yang dirasakan oleh mereka, salah satunya terkait penyesuaian harga BBM.
Azis menjelaskan, pengurangan subsidi BBM ini juga juga dirasakan kalangan ojek online dampaknya. Sebab tak menutup kemungkinan imbasnya juga pada kenaikan harga komoditas bahan pokok. Hal ini yang harus diantisipasi oleh Pemda Kota Cirebon.
“Antisipasi itu melalui menjalankan program pemerintah pusat, misalnya pemberian bantuan langsung agar tepat sasaran, termasuk menjaga daya beli masyarakat dan lain sebagainya,” tutur Azis.
Selain itu, sambung Azis, Pemda Kota Cirebon juga melakukan operasi pasar murah. Hal itu untuk menjaga stabilitas harga komoditas bahan pokok yang mulai merangkak naik akibat kenaikan harga BBM bersubsidi.
“Kenaikan harga BBM adalah keniscayaan. Kami percaya pemerintah pusat sudah menghitung semua dengan mempertimbangkan berbagai faktor, begitupula dengan penanggulangan dampaknya,” kata Azis.
Tak hanya itu, Azis bahkan meminta perwakilan dari ojol untuk menyusun bersama apa yang menjadikan tuntutan. Dan kemudian pihaknya akan menyampaikan ke pemrintah pusat.
“Saya akan sampaikan tuntutan para driver ojol ini ke pemerintah pusat,” pungkasnya. (Agus/Siti Sentiani)
















































































































Discussion about this post