Oleh: Subandi
Aktivis Karang Taruna Jatibarang Indramayu
Perusahaan butuh tenaga karyawan untuk mewujudkan visi yang telah dibangun. Sebagai reward, perusahaan memberikan gaji, tunjangan, dan lain-lain.
Hal itu terutama untuk menunjang kebutuhan fisik pekerja.
Di sisi lain, sebagian perusahaan belum memberikan perhatian kepada kondisi mental karyawan. Padahal kondisi mental yang baik dan sehat menjadi motor utama mereka dalam bekerja.
Karyawan dihadapkan kepada stresor (pemicu stres) antara lain adanya tenggat waktu, rutinitas selesaikan target, beban kerja bertambah, penambahan jam kerja atau lembur. Belum lagi jika lembur tidak dibayar.
Ada juga stresor yang timbul dalam hal hubungan relasi karyawan dengan atasan, klien, dan atau sesama karyawan internal. Ditambah lagi stresor lain yang berasal dari jauhnya jarak tempat tinggal karyawan dengan lokasi kerja yang bisa memengaruhi produktivitas.
Beberapa stresor di atas dapat menimbulkan masalah kesehatan mental misalnya keraguan diri, kecemasan, menurunnya kinerja, berkurangnya konsentrasi, dan masalah kesehatan lainnya.
Dampak lainnya adalah mempengaruhi kinerja karyawan antara lain penurunan tingkat produktivitas, peningkatan ketidakhadiran, dan memicu hubungan yang tegang dengan rekan kerja. Jikalau hal tersebut terjadi, perusahaan akan terkena imbasnya.
Bagaimana perusahaan atau organisasi dapat membantu karyawan mereka untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan mereka?
Perusahaan dapat memberikan program bantuan karyawan berupa layanan konseling. Perusahaan dapat merekrut karyawan yang khusus membidangi konseling, atau bekerja sama dengan lembaga konseling sebagai mitra.
Layanan konseling
Layanan konseling membantu karyawan menemukan solusi atas permasalahan dalam hidup mereka. Layanan ini juga membantu karyawan untuk mengembangkan kemampuan mereka untuk mengatasi tantangan pekerjaan yang dialami.
Studi yang diterbitkan oleh British Association for Counselling and Psychotherapy pada tahun 2001 menerangkan bahwa, setelah karyawan melakukan konseling, gejala-gejala yang berhubungan dengan pekerjaan kembali normal pada lebih dari setengah jumlah karyawan dan ketidakhadiran karena sakit berkurang lebih dari 25 %.
Studi lain yang dilakukan oleh Millar pada tahun 2002 menjelaskan, sebagian besar peserta melaporkan bahwa konseling telah membantu mereka mengatasi masalah sehingga menyebabkan mereka mencari bantuan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belajar sesuatu yang baru dan berguna untuk diri mereka sendiri.
Seiring perkembangan waktu, ditemukan studi tentang konseling di tempat kerja pada tahun 2010 oleh McLeod. Studi ini menunjukkan bahwa intervensi konseling di tempat kerja dapat mengurangi tingkat ketidakhadiran karena sakit di organisasi sebanyak 50%.
Studi terbaru pada tahun 2012 yang dilakukan oleh Universitas Cambridge kepada 28.000 peserta menunjukkan bahwa, sebanyak 70% peserta mengalami peningkatan setelah mengikuti layanan konseling. Peningkatan yang dimaksud adalah peningkatan kinerja, peserta menjadi lebih bahagia, lebih positif, dan memiliki rasa aman ketika bekerja.
Produktivitas meningkat
Layanan konseling tidak hanya bermanfaat untuk karyawan, tetapi juga untuk perusahaan. Manfaat yang didapat berupa adanya penurunan absensi karyawan, penurunan tingkat turnover, peningkatan produktivitas karyawan, dan dapat membangun reputasi perusahaan yang peduli kepada karyawan.
Layanan konseling ini dapat dimanfaatkan sebagai intervensi untuk menangani karyawan yang memiliki perilaku bermasalah.
Layanan konseling dapat diberikan dari konselor profesional yang bekerja di organisasi atau psikolog industri dan organisasi.
Lantas apa saja gejala karyawan atau pekerja yang mengalami masalah sehingga butuh konseling? Karena sebagian orang bermasalah tidak menyadari bahwa dia sedang bermasalah. Lebih dari itu, karyawan bermasalah cenderung bersifat tertutup ketika ingin berbicara tentang permasalahan yang dialaminya.
Karyawan yang mengalami permasalahan dapat dilihat melalui aktivitasnya selama bekerja. Gejala-gejala yang dapat dikenali yaitu adanya karyawan yang sering datang terlambat, mulai tidak fokus pada pekerjaan yang diberikan, sering membicarakan hal-hal di luar pekerjaannya, sering tidak mengerjakan tugasnya, durasi istirahat yang berlebihan, menunjukkan sikap agresif baik ke rekan kerja maupun atasan, adanya KPI yang tidak tercapai, hingga bergosip tentang perusahaan.
Lebih hemat
Untuk mencapai efektifitas dan efisiensi biaya dalam melakukan konseling, perusahaan disarankan untuk melibatkan manajer, supervisor, dan HR baik yang berasal dari jurusan psikologi atau non psikologi untuk mengikuti pelatihan menjadi konselor. Pelatihan ini berguna untuk pengembangan kemampuan dalam mengelola karyawan.
Manfaat yang didapat pada pelatihan ini adalah peserta -yang terdiri dari manajer, supervisor, dan HR- dapat lebih terlibat dengan karyawan yang bermasalah, mengembangkan keterampilan empati, menunjukkan manner yang lebih terbuka serta transparan, dan membangun hubungan saling percaya yang lebih dekat dengan staf.
Jadi, sudahkah perusahaan memiliki layanan konseling untuk karyawan?
Layanan konseling dinilai lebih hemat dalam menangani karyawan yang bermasalah serta berdampak positif terhadap produktivitas karyawan. Kembali lagi penekanan perlunya konseling, untuk memajukan perusahaan, karyawan membutuhkan tidak hanya kesejahteraan secara fisik, tetapi juga secara mental.***


















































































































Discussion about this post