KAB. CIREBON, (FC).- Puluhan warga Blok Manis Desa Kalibuntu Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon menuntut pertanggungjawaban keberadaan Batching Plant milik PT Indocement yang dibangun untuk pekerjaan pengecoran di proyek pembangunan PT Long Rich Indonesia di Desa Sidaresmi Kecamatan Pabedilan.
Pasalnya, warga sekitar yang terdampak tak ada yang diberi kompensasi maupun jaminan apapun. Warga merasa tertipu lantaran dijanjikan, tetapi malah ditinggalkan, Rabu (31/3).
Salah seorang warga Blok Manis Desa Kalibuntu yang rumahnya di ring 1 dengan Batching Plant, Sarinah mengungkapkan, sejak awal dibangun, dirinya sempat diminta foto copy KTP dengan alasan akan diberi kompensasi terkait rencanan beroperasinya Batching Plant tersebut.
Sarinah mengaku sampai tiga kali pihak desa meminta foto copy KTP. Akan tetapi, pada informasi terakhir sudah ada pemberian kompensasi, namun dirinya tak mendapatkannya.
“Katanya mau diberi ganti rugi, sampai diminta foto copy KTP sampai 3 kali, tapi pas ada pemberian dana kompensasi saya tidak mendapatkan,” keluhnya.
Padahal, kata Sarinah, keberadaan Batching Plant tersebut sangat dekat dengan rumahnya. Setiap hari beroperasi, siang maupun malam membuat dirinya merasa bising.
Selain itu, debu yang keluar sering mengotori rumah dan warungnya. Sehingga, warga yang terdampak meminta kompensasi dan pihak perusahaan bertanggungjawab atas dampak yang dirasakan masyarakat sekitar.
Kalaupun memang sudah ada kompensasi, seharusnya yang adil, jangan sampai pilih kasih karena semua merasakan dampaknya.
“Jelas terganggu, setiap hari mesin jalan siang malam, suaranya bikin berisik di telinga, debunya juga sering mengotori rumah, selain saya ada juga Mudi dan Kosim yang dapat undangan tetapi tidak tahu ada alasan apa akhirnya tidak mendapatkan kompensasi,” tutur Sarinah.
Senada juga disampaikan Rodiyah. Dirinya mendengar ada sekitar 10 warga yang telah menerima uang pertanggungjawaban atau kompensasi beroperasinya Batching Plant PT Indocement.
Sehingga sekitar 30 warga sekitar yang sama-sama merasakan dampak namun tidak mendapat perhatian membuat timbul rasa iri.
Rodiyah berharap pihak perusahaan memperhatikan masyarakat sekitar yang terdampak.
Ketika ditanya perijinan pembangunan Batcing Plant, dirinya bersama warga lainnya yang berada di sekitar Batching Plant belum merasa menandatangani persetujuan ijin tetangga.
“Kita yang jumlahnya 30 rumah dan sudah mengumpulkan KTP tidak mendapatkan apa-apa, padahal kita sama-sama bising dan sering kena debu,” terangnya.. (Nawawi)











































































































Discussion about this post