KOTA CIREBON, (FC).- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memiliki ambisi besar dalam pembangunan, salahsatunya untuk membuat daerah pertumbuhan baru di Jawa Barat. Wilayah Pantai Utara (Pantura) pun dibidik menjadi daya tarik investor di masa depan, yakni Kawasan Metropolitan Rebana.
Ambisi ini rupanya mendapatkan lampu hijau dari pemerintah pusat, yakni dari Kemenko Perekonomian. Dengan digelarnya rapat koordinasi percepatan pembangunan Kawasan Metropolitan Rebana, yang dilaksanakan di Ruang Rapat Adipura Kencana Balaikota Cirebon, Selasa (22/12).
Seusai rapat, Asisten Deputi Penataan Ruang dan Pertanahan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Dodi Slamet Riyadi menyampaikan, konsep pembangunan yang terintegrasi sangat dibutuhkan. Karena pembangunan bukan saja didorong oleh pemerintah pusat, tapi harus ada komitmen bersama dengan pemerintah daerah.
Untuk itu, pemerintah pusat akan menyiapkan infrastruktur untuk konsep kawasan metropolitan rebana. Namun Dodi juga berpesan agar Sumber Daya Manusia (SDM) juga harus disiapkan.
Sehingga orang-orang di Cirebon dan sekitarnya nantinya tidak hanya akan jadi penonton dengan kemajuan pembangunan yang terjadi di daerah-daerah kawasan metropolitan rebana.
“Tadi dalam rapat, kami mengevaluasi kesiapan semua pemda yang masuk Kawasan Metropolitan Rebana. Saya apresiasi karena sebagian besar menyatakan siap dan mendukung penuh rencana besar ini,” terang pria asli Kota Cirebon ini.
Ditempat yang sama, Sekretaris Bappeda Jabar, Iendra Sofyan menambahkan, saat ini Kawasan Metropolitan Rebana tengah didorong menjadi salah satu proyek strategis nasional (PSN) di Indonesia.
Iendra beralibi, bila masuk PSN nanti seluruh kebijakan akan masuk dan mendukung kawasan rebana ini. Kemudian, PSN ini akan memiliki payung hukum yakni Keputusan Presiden. Seperti halnya PSN yang ada di Provinsi Jateng dan Jatim.
“PSN dengan dukungan kepres, tentunya akan mendapatkan pembiayaan dari APBN. Dukungan infrastruktur dan kemudahan lainnya,” ungkapnya.
Sebagai jantung pertumbuhan kawasan ini ada Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka yang berfungsi sebagai pusat konektivitas dan logistik.
Kawasan metropolitan rebana juga diproyeksikan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi Jabar di masa depan, melalui pengembangan kawasan industri yang terintegrasi, inovatif, kolaboratif, berdaya saing tinggi serta berkelanjutan.
Tujuannya agar menjadi kawasan yang tertata, tidak seperti yang terjadi di Bekasi atau daerah penyangga ibukota lainnya.
Saat ini, lanjut Iendra, peraturan daerah, rencana tata ruang dan tata wilayah (RT/RW) juga tengah dalam proses revisi di Kementrian Agraria dan Tata Ruang/BPN RI dan masuk ke perubahan RPJMD Jabar. “Tapi harapan kami bukan Perda, justru Perpres melalui PSN,” cetusnya.
Sedangkan Sekda Kota Cirebon Agus Mulyadi menyebutkan, Kawasan Metropolitan Rebana ini terdiri dari 7 kota dan kabupaten.
Ada Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Subang.
“Dengan kawasan metropolitan rebana, nantinya ada pembagian fungsi dan peran di masing-masing daerah,” terang pria berperawakan jangkung ini.
Khusus untuk Kota Cirebon, kata dia, Kawasan Metropolitan Rebana ini, akan menguatkan Kota Cirebon sebagai kota perdagangan dan jasa. Seperti disampaikan pada rapat tadi, pertumbuhan dengan dan tanpa kawasan metropolitan rebana, signifikan sekali perbedaannya.
“Kita akan menjadi pemain bukan hanya menonton. Ini berarti pendapatan Kota Cirebon dari sektor perdagangan dan jasa semakin meningkat,” pungkasnya. (Agus)















































































































Discussion about this post