MAJALENGKA, (FC).- Kampung Muara Desa Wanasalam Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka tetap melestarikan adat desa seperti guar bumi. Dengan penerapan dan pengawasan petugas dari desa setempat, pada rabu (14/10) ratusan warga yang datang mengikuti acara guar bumi dihimbau untuk tetap menjalankan protokol kesehatan.
Gugus tugas penanganan covid 19 Kecamatan Ligung pun turut mengawasi jalannya ritual guar bumi yang di gelar di lapangan terbuka. Satu persatu warga yang datang seraya membawa nasi tumpeng berikut lauk pauk serta makanan khas guar bumi sepeeti ketupat, leupet dan tantang angin, diperiksa suhu tubuhnya dan serta wajib cuci tangan serta memakai masker saat memasuki area guar bumi.
Kades Wanasalam Apan Sutarpan dalam sambutannya mewanti wanti agar masyarakat harus tetap waspada dalam menghadapi pandemi seperti saat ini. Walau situasi sedang darurat karena adanya penyebaran covid 19, namun adat desa seperti guar bumi yang memang sudah turun temurun perlu kita lestarikan.
Tentunya dalam pelaksanaanya berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini karena pandemi pelaksanaan adat guar bumi dilaksanakan secara sederhana namun tetap menjalankan protokol kesehatan.
“Sebentar lagi kita memasuki musim tanam rendengan, sebelum kita memulai terjun ke sawah, mari kita melakukan doa bersama yang dikemas dalam sebuah tradisi yang kita kenal dengan sebutan guar bumi,” jelas Kades Suntana.
Disamping itu pula, pihaknya tidak bosan bosan menghimbau kepada masyarakat dalam menghadapi datangnya musim penghujan, agar selalu menjalankan hidup bersih agar terhindar dari segala jenis virus dang penyakit.
Pantauan FC di lapangan, pelaksanaan guar bumi di Kampung Muara Desa Wanasalam ini sungguh sangat unik. Pasalnya setiap masyarakat yang datang diwajibkan membawa makanan khas guar bumi seperti kupat, lepeut dan tantang angin.
Nantinya kueh kueh tersebut dibawa pulang dan digantungkan di atas pintu rumah masing masing. Entah apa maksud dan tujuannya tersebut, namun dari beberapa warga yang berhasil ditemui FC, rata rata mengatakan bahwa penggantungan jenis makanan ketupat, lepeut dan tantang angin sebagai simbol agar masyarakat tidak kekurangan pangan.
“Ya mas, ketupat, lepeut dan tantang angin ini kan jenis makanan sehari hari. Tujuan agar masyarakat nantinya tidak kekurangan pangan, dengan cara seusai guar bumi ini masyarakat khususnya petani turun ke sawah dan ladang untuk bercocok tanam, sehingga diharapkan nantinya menghasilkan panen yang berlimpah.” Ujar warga yang mengaku bernama Nurita. (Munadi)













































































































Discussion about this post