KAB.CIREBON, (FC).- Di tengah penurunan angka pengangguran secara umum, Kabupaten Cirebon justru menghadapi persoalan baru di sektor ketenagakerjaan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon mencatat adanya peningkatan pengangguran dari kalangan lulusan pendidikan menengah hingga perguruan tinggi pada 2025.
Data BPS menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Cirebon mengalami penurunan dari 6,74 persen pada 2024 menjadi 6,42 persen pada 2025.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada kelompok lulusan SMA dan perguruan tinggi yang justru mengalami peningkatan angka pengangguran.
TPT lulusan SMA tercatat naik dari 7,67 persen menjadi 8,96 persen atau meningkat 1,29 poin persentase.
Sementara itu, pengangguran dari lulusan perguruan tinggi melonjak dari 1,30 persen menjadi 3,33 persen atau bertambah 2,03 poin persentase.
Kepala Tim Humas BPS Kabupaten Cirebon, Harri Ramdhani, menyebut fenomena tersebut sebagai anomali dalam kondisi pasar kerja.
Sebab, secara teori, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang seharusnya semakin besar peluang untuk mendapatkan pekerjaan.
“Harusnya ketika semakin tinggi pendidikan masyarakat maka pengangguran semakin rendah. Tapi yang terjadi justru anomali. Lulusan SMA, D3, dan S1 yang menganggur masih cukup banyak,” ujar Harri, Rabu (8/7).
Menurutnya, salah satu penyebab meningkatnya pengangguran terdidik adalah belum sesuainya kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Lapangan pekerjaan yang tersedia dinilai belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan tertentu.
“Lapangan kerja yang tersedia kadang tidak match dengan lulusan perguruan tinggi. Ada juga lulusan yang merasa pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan pendidikannya sehingga memilih menunggu pekerjaan yang dianggap lebih cocok,” jelasnya.
Harri mengatakan, persoalan tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan sektor usaha untuk membangun keterhubungan antara kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi daerah harus diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan.
Jika tidak, peningkatan jumlah lulusan setiap tahun berpotensi tidak diikuti dengan peningkatan kesempatan kerja.
Selain berdampak terhadap sektor ketenagakerjaan, tingginya pengangguran juga berpengaruh terhadap kualitas pembangunan manusia.
Berkurangnya pendapatan masyarakat akibat tidak bekerja dapat memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak yang menjadi indikator dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
“Pengangguran sangat memengaruhi IPM karena masyarakat kehilangan pendapatan. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan hidup layak menjadi semakin sulit,” tuturnya.
BPS Kabupaten Cirebon berharap kondisi tersebut menjadi perhatian bersama agar tercipta sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Dengan peningkatan kualitas keterampilan dan perluasan lapangan pekerjaan, lulusan SMA hingga perguruan tinggi diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk terserap dalam dunia kerja. (Johan)










































































































Discussion about this post