KUNINGAN, (FC).- Upaya penyelamatan Waduk Darma dari ancaman ledakan eceng gondok terus mendapat dukungan berbagai pihak. Tak ingin tinggal diam melihat kondisi perairan yang semakin tertutup gulma air tersebut, Kelompok Tani Hutan (KTH) Paguyuban Silihwangi Majakuning mengerahkan puluhan anggota beserta armada pendukung untuk terlibat langsung dalam aksi gotong royong massal pembersihan eceng gondok di Waduk Darma, Sabtu (13/6).
Sebanyak 50 anggota diterjunkan dari sejumlah Kelompok Tani Hutan yang berada di desa-desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Mereka bergabung bersama Pemerintah Kabupaten Kuningan dan berbagai elemen masyarakat dalam upaya mengembalikan fungsi ekologis sekaligus menjaga daya tarik wisata Waduk Darma.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arif mengatakan, keterlibatan pihaknya merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar.
Menurutnya, keberadaan eceng gondok yang semakin meluas tidak boleh dianggap sepele karena dapat memicu berbagai persoalan lingkungan jika tidak segera ditangani secara serius dan berkelanjutan.
“Ini merupakan ekosistem kita bersama. Kami merasa terpanggil untuk ikut turun tangan karena menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” ujar Nandar di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali dapat mempercepat sedimentasi waduk, menghambat sirkulasi air, hingga mengurangi kadar oksigen yang dibutuhkan biota perairan untuk bertahan hidup.
“Dampaknya cukup besar. Selain mempercepat sedimentasi, eceng gondok juga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. Karena itu, penanganannya harus dilakukan bersama-sama,” katanya.
Dalam aksi tersebut, Paguyuban Silihwangi Majakuning mengirimkan perwakilan dari lima Kelompok Tani Hutan, yakni KTH Desa Cisantana, Puncak, Sagarahiang, Karangsari, dan Gunungsirah. Kelimanya merupakan bagian dari 28 KTH yang tergabung dalam paguyuban.
Tak hanya mengerahkan sumber daya manusia, mereka juga membawa berbagai sarana pendukung berupa dua unit dump truck, satu unit kendaraan pikap, 300 karung, serta 10 garpu untuk membantu proses pengangkutan eceng gondok yang berhasil diangkat dari permukaan waduk.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, tutupan eceng gondok di sejumlah titik Waduk Darma dinilai sudah cukup luas sehingga membutuhkan penanganan yang melibatkan banyak pihak serta dilakukan secara berkesinambungan.
“Kondisinya memang sudah cukup dominan. Mudah-mudahan melalui gerakan bersama ini, eceng gondok yang menutupi perairan dapat berkurang sehingga fungsi waduk kembali optimal, baik sebagai sumber daya air maupun destinasi wisata,” tuturnya.
Nandar berharap semangat gotong royong yang ditunjukkan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian Waduk Darma. Menurutnya, keberadaan waduk tidak hanya penting bagi keseimbangan lingkungan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat dan salah satu ikon wisata Kabupaten Kuningan.
“Ngajaga alam, miara kahirupan. Semoga gerakan ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan,” pungkasnya. (Angga)









































































































Discussion about this post