MAJALENGKA, (FC).– Kenaikan harga BBM jenis Pertamax mulai berdampak pada pelaku usaha mikro di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Penjualan di sejumlah POM Mini menurun, sementara pedagang makanan dan sayur keliling mengaku biaya operasional meningkat sehingga keuntungan semakin menipis.
Salah seorang pemilik POM Mini di Kecamatan Cigasong, Ucup (48), mengatakan penjualan Pertamax mengalami penurunan signifikan setelah harganya naik.
Jika sebelumnya sekitar 67 liter atau dua jerigen Pertamax habis terjual dalam sehari, kini jumlah tersebut baru habis dalam dua hari.
“Biasanya satu hari bisa habis dua jerigen, sekarang dua hari baru habis. Pembeli banyak yang mengurangi pembelian,” kata Ucup, Minggu (14/6).
Menurutnya, sebagian konsumen kini memilih membeli BBM langsung di SPBU atau beralih ke Pertalite karena selisih harga yang dinilai cukup besar.
Kondisi tersebut membuat permintaan Pertamax eceran menurun. Dampak kenaikan harga Pertamax juga dirasakan pelaku usaha keliling yang mengandalkan kendaraan bermotor.
Wirja (50), pedagang bakso ikan asal Baribis, mengaku terpaksa menaikkan harga jual karena biaya bahan baku dan transportasi terus meningkat.
“Kalau tidak dinaikkan, keuntungan semakin kecil. Tapi setelah harga naik, pembeli juga berkurang,” ujarnya.
Sementara itu, pedagang sayur keliling, Asep (45), mengungkapkan biaya bahan bakar yang lebih tinggi membuat pengeluaran harian bertambah. Namun, ia kesulitan menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan beralih ke pedagang lain.
“Kalau bensin naik, modal jalan ikut naik. Tapi kalau harga sayur dinaikkan, pembeli juga banyak yang keberatan,” katanya.
Kenaikan harga Pertamax kini menjadi perhatian pelaku usaha mikro di Majalengka. Mereka berharap harga BBM dan kebutuhan pokok dapat kembali stabil agar usaha kecil yang bergantung pada mobilitas kendaraan tetap mampu bertahan di tengah meningkatnya biaya operasional. (Munadi)









































































































Discussion about this post