SHANGHAU, (FC).– Generasi muda Tiongkok semakin banyak mendirikan “perusahaan satu orang” yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menjalankan sebagian besar pekerjaan.
Langkah ini muncul dari kekhawatiran akan diskriminasi usia di tempat kerja, terutama setelah melewati usia 35 tahun.
Model startup kecil berbasis AI sebelumnya populer di Silicon Valley. Kini, anak muda Tiongkok mengikuti jejak tersebut, didorong oleh dukungan pemerintah berupa pendanaan jutaan dolar dan subsidi sewa.
Kebijakan ini sejalan dengan ambisi Beijing mencapai “kemandirian teknologi”
“Perusahaan perseorangan adalah produk dari era AI,” kata Karen Dai, pendiri SoloNest di Shanghai, dikutip dari Japan Today pada Selasa (27/4).
Dai menegaskan bahwa AI telah menurunkan hambatan untuk memulai bisnis sendiri.
Dalam sebuah acara di Shanghai pada Minggu, sekitar 20 anak muda usia 20-30 tahun memadati ruang konferensi. Mereka berdiskusi selama tiga jam tentang cara membangun usaha perseorangan.
Wang Tianyi, 26 tahun, yang keluar dari pekerjaannya sebagai manajer produk, kini meraup hingga 40.000 yuan per bulan dari iklan berbasis AI. Ia memperkirakan tren ini akan menjadi arus utama.
Diskriminasi usia, yang dikenal sebagai “kutukan 35”, menjadi alasan utama. Dai, 38 tahun, menyebut adanya “garis tak terlihat” yang membuat perusahaan menilai ulang karyawan di usia tersebut. Anak muda pun mencari jalan alternatif sebelum mencapai titik itu.
Wei Xin, 34 tahun, bahkan sudah mengantisipasi pekerjaannya digantikan AI. Ia beralih ke kursus teknologi dan pembuatan konten digital.
“Jika saya tidak mendekatinya, saya mungkin akan segera tersingkir,” ujarnya.
Kota-kota besar seperti Suzhou dan Chengdu meluncurkan kebijakan mendukung perusahaan perseorangan berbasis AI, atau “OPC”. Suzhou menargetkan 10.000 talenta OPC pada 2028 dengan dana 700 juta yuan.
Chengdu menawarkan subsidi hingga 20.000 yuan bagi lulusan yang memulai usaha mandiri.
Kyle Chan, peneliti di Brookings, menilai kebijakan ini sebagai cara murah untuk mengatasi pengangguran muda, yang mencapai satu dari enam orang berusia 16–24 tahun.
Meski peluang terbuka, tantangan tetap ada. “Hal terpenting di masa depan adalah bagaimana cara menjualnya,” kata Wang.
Dai menambahkan, generasi muda kini berinvestasi dalam rencana cadangan sambil bertanya pada diri sendiri apakah mereka bisa memanfaatkan AI untuk mewujudkan ide-ide kreatif.***











































































































Discussion about this post