KAB. CIREBON, (FC).- Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan mainan tradisional semakin terdesak. Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, sementara mainan yang dulu meramaikan masa kecil perlahan kehilangan peminat.
Namun, di sejumlah tempat, mainan tradisional masih bisa ditemui, salah satunya di kawasan Trusmi, Kabupaten Cirebon.
Triyono, pedagang mainan tradisional, mengakui bahwa tantangan berjualan saat ini cukup besar. Selain daya beli masyarakat yang menurun, minat anak-anak terhadap mainan tradisional pun berkurang. “Sekarang kan lagi anjlok ekonomi ya, jadi mengurangin. Apalagi dengan adanya mainan toko yang viral-viral, mainan tradisional sudah berkurang,” tuturnya, Rabu (17/9/2025).
Ia menyebutkan omsetnya tidak menentu. Jika sepi, hanya bisa mengantongi Rp100 ribu. Namun saat ramai, terutama di malam Minggu, penghasilan bisa mencapai Rp500 ribu. Meski begitu, Triyono menilai masih ada kalangan remaja yang membeli karena faktor nostalgia. “Mereka yang dulu main ini waktu kecil, masih suka beli,” tambahnya.
Sementara itu, Sudrajat, pengrajin kapal otok-otok yang telah menekuni usaha sejak 2013 mengungkapkan, bahwa pasar mainan tradisional kini lebih banyak bergeser ke jalur grosir dan online. “Kalau dulu pembeli banyak yang datang langsung, bahkan dari Jakarta. Sekarang kebanyakan lewat online. Jadi memang ada penurunan dibanding zaman dulu,” jelasnya.
Menurut Sudrajat, kapal otok-otok sudah ada sejak 1970-an dan sempat sangat populer di kalangan anak-anak. Kini, pembeli terbanyak justru berasal dari pedagang grosir yang mengambil 20 hingga 50 kodi untuk dijual kembali.
Dari pengrajin, harga mainan ini sekitar Rp4.000 per unit, sementara di tangan pedagang bisa mencapai Rp15.000.
Tidak hanya dipasarkan di Cirebon, Sudrajat menyebut kapal otok-otok juga dikirim ke berbagai daerah, bahkan hingga Kalimantan dan Sumatera.
“Kalau untuk bahan, kami masih pakai yang utuh dan bagus. Prosesnya manual, dari melukis sampai merakit semuanya dikerjakan sendiri,” katanya.
Meski menghadapi banyak tantangan, pedagang dan pengrajin tetap berusaha menjaga eksistensi mainan tradisional. Dengan cara produksi sederhana dan harga terjangkau, mereka berharap mainan yang pernah meramaikan masa kecil banyak orang ini bisa tetap bertahan di tengah gempuran zaman digital. (Red)
















































































































Discussion about this post